"ya nok, smg apa yg dicitakan nok tercapai dan sukses"
5 April 2010 20:15:29
Tepat seminggu yang lalu aku berkejar-kejaran dengan waktu. Mengejar senja di jalanan Pacitan-Yogya. Entah mengapa, ciyo tak bisa aku bawa lebih dari 60 km/jam. Jalanan yang sudah aku kenalipun rasanya mendadak tak bersahabat. Pesan Bulek’ Jihan agar tak sedikitpun lepas membaca dzikir dalam hati selama perjalanan sudah tak sanggup lagi aku jalankan. Ya, aku tidak lagi membacanya, tapi aku meneriakkannya di tiap tanjakan dan turunan, maupun di tiap kelokan jalan. Ini kali pertama aku melakukan perjalanan malam Pacitan-Yogya.
Dengan bekal bahwa aku pernah melakukan perjalanan Solo-Yogya malam hari, aku nekad menaklukan jalanan Pacitan-Yogya. Tapi, hey, ini bukan jalanan Solo-Yogya yang ramai lalu lintasnya, ini jalanan kecil yang di kanan kirinya bukit, jalanan yang tak banyak pemukiman di sisinya, jalanan yang bahkan jumlah kendaraan yang melintasi tiap jamnya dapat di hitung dengan jari. Jalanan yang teman-teman KKN ku pun mengibaratkan seperti roller coaster. Bukan hal yang aneh, sebab setelah tanjakan, untuk orang yang belum pernah melintasinya, tidak akan pernah tahu, apakah turunan itu berbelok ke kanan ataupun ke kiri. Ah, aku tak peduli, yang ada di benakku hanya satu, aku harus sesegara mungkin sampai di Yogya.
Prediksiku, aku mampu mengejar adzan maghrib di daerah Bedoyo, Rongkop. Jalanan dari Bedoyo-Wonosari cukup ramai dan sudah banyak pemukimannya. Paling tidak, ada lampu penerang jalannya di beberapa ruas jalan. Tapi ternyata Allah masih menguji azzam ku, aku bertemu senja di kecamatan kecil daerah Wonogiri, Pracimantoro. See,itu masih 5-10 km lagi sebelum Bedoyo. Oke, seorang cewe, dengan motor matic menggondol tas berisi laptop dan ‘sak kuwelan’ baju kotor di dalamnya, melewati jalanan berbukit, berliku, dan parahnya lagi gelap, pet, pet, pet. Hahaha, nekad benar ya cewe itu? Ya, cewe nekad itu aku.
Mampir ke pom bensin satu-satunya di Praci dengan menyelipkan niat lain, mencari orang yang bisa tak ‘nunuti’ .Hehehe. Mataku langsung menangkap jupiter merah dengan plat AB XXXX WD. Yess, motor Gunung Kidul-an. Dengan pedemeter maksimal, aku langsung berbasa-basi, dan akhirnya jupiter merah dan mio putih jalan beriringan menuju Bedoyo. Sepanjang perjalanan, yang aku dendangkan hanyalah hamdalah, hamdalah, dan hamdalah. Pikiranku baru bisa berfikir normal, ‘kenapa aku tidak meminta siapa gitu untuk menemaniku dari pacitan tadi?’. Baru sadar, aku bisa mikir ya?Masuk kota Wonosari, aku baru menyadari bahwa ternyata phone ku sudah menjerit-jerit sedari tadi. Ada entah berapa puluh missed call dan beberapa sms, dari Dek Salwa, Yayu Pipit, Yayu Ade dan Dek Nana, sisanya tidak bisa masuk karena message inbox ku penuh. Dek Salwa mengabari bahwa aku diminta segera mengejar bis ke Bumiayu, Yayu Pipit dan Yayu Ade bertanya apakah aku baik-baik saja, dan Dek Nana, dia meyakinkanku bahwa ia selalu ada bersamaku, ia akan selalu berdoa memohonkan yang terbaik untukku. Ah, adek, terimakasih untuk segala bentuk perhatianmu itu. Tepat ketika aku selesai membaca sms, abah menelponku mengabari bahwa abah dan keluarga akan berangkat dari Bandung sekitar jam 10 malam.
(to be continue)
Yogya, 23 Mei 2010
Komentar
Posting Komentar