Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita hati

Berhenti, untuk Kembali Memulai

Aku hanya butuh jeda, selalu itu yang menjadi alasan. Bahkan di tulisan terakhir blog ini. Padahal yang kucari bukan jeda, tapi momen untuk memulai kembali. Alasan untuk kembali memulai. Barangkali itulah kenapa, tagline blog ini kuubah kembali, dari " diari dudul mahasiswa magister " menjadi " perjalanan menuju permulaan ". Ya, aku butuh alasan untuk memulainya kembali. Tidak, aku tidak sedang mencari, aku hanya perlu membuat. Seperti kebahagiaan yang tidak perlu dicari, aku hanya perlu membuat sebuah alasan Mengapa aku harus kembali memulai?  Higashihiroshima. June, 14. 2020.

Silu

Kapan? Dimana? Itu hanya tanya biasa bukan? Tapi bagiku, silu setiap kali harus menjawab dengan kalimat yang sama. Apa aku yang memilih untuk seperti ini? Apa aku yang tak pernah meminta? Seperti tanya yang tak mungkin tak berjawab, semua yang ada di dunia ini berimbang. Dengan siapa dan bagaimana cara kami bertemu. Biar waktu yang berbaik hati menjawab setiap tanya. #Jurnal52 #Minggu14

Perjalanan Waktu

credit photo by @hfsn 25 tahun yang lalu, Di atas tumpukan kardus bekas di kolong meja dagangan ayahnya, anak kecil dengan pipi tembam dan rambut dikucir 2 itu tertidur. Lelap setelah lelah seharian berlarian di sudut2 pasar. Blok ayam. Blok sayuran. Blok ikan. Bau, kotor dan becek. Tak apa, yang ia tahu hanya bermain. Ia senang. 20 tahun yang lalu, Di atas vespa tua ayahnya. Pulang ke rumah yang berjarak tak dekat. Berhimpitan dengan kakak lelakinya. Hujan. Basah. Tak apa, yang ia tahu disana ada rumah tempat mereka pulang. Ia senang.

Sebuah Pernyataan

Ada percakapan yang menarik malam tadi antara aku dan temanku. Sebuah pernyataan yang aku ingin mampu mengingatkan aku ketika satu waktu nanti aku benar-benar 'terjatuh'. diambil dari sini :) Sometime somehow, aku gak bohong, aku memang suka sama dia. Dan seperti yang kamu bilang tadi, level nya lebih tinggi d atas 'sekedar jatuh cinta'. Tapi aku juga realistis, aku lebih suka membiarkan takdir Allah berjalan sebagaimana mestinya kalo memang dia adalah jodohku, bukan memaksakan menjadikan dia jodohku 'apapun caranya'. Maka seperti yang aku bilang tadi juga, kalo dia justru berjodoh dengan org lain, sesaat -hanya sesaat, aku mungkin akan 'sakit hati'. Tapi.. tapi lho ya.. aku bakal percaya "hey, it's a reality, you never change the name of 'qadar'.." Aku percaya -sangat percaya, bahwa seperti halnya dari Ibu mana -dari siapa kita dilahirkan, orang tua mana yang akan menjadi ayah ibu kita, pun bgmn jalan hidu...

Mem'buta-tuli-bisu'kan hati

Saat aku menghadapNya, di sepanjang perjalanan menemuinya, aku selalu berusaha untuk bisa mem'buta-tuli-bisu'kan panca indera ku, agar hatiku bisa melihat, mendengar sekaligus berdialog denganNya. Tanpa perantara. Walau sampai saat ini sungguh, itu adalah satu dari sekian banyak hal yg aku mati-matian berusaha melakukannya... Tapi, ketika urusan duniawi dtg, kita acapkali berbuat sebaliknya. Kita sudah dimanjakan untuk terbiasa mem'buta-tuli-bisu'kan hati kita... Pun juga aku. Sungguh, aku malu melakukannya...

Rindu

Rabb, aku merindukannya. Aku mampu mengingat segala hal tentangnya.. Sungguh, rindu ini begitu menyesakkan. Rabb, bantu aku melupa. Kalaupun tak bisa semua, maka sebagian pun tak apa. Sungguh, rindu ini begitu menyesakkan.

Apakah...

Aku punya mata, tapi aku tak melihat. Aku punya telinga, tapi aku tak mendengar. Bukan tak mampu, mungkin tak mau. Aku juga punya hati, tapi aku... Pun juga otak, tapi aku... Aku tak ma(mp)u lg merasa juga berfikir "Punya otak itu dipake buat mikir, punya hati buat merasa." Sejatinya itulah (ke)hidup(an) Lantas, saat kita tak ma(mp)u lg melakukannya, apakah itu berarti kita sudah tidak hidup lg?

Apakah ibu?

Apakah semua ibu memang seperti itu? Selalu memaafkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya. Selalu mendoakan di setiap sujud panjangnya. Selalu menyembunyikan air mata di balik senyumnya. Selalu memberikan kasih sayang yang sama. Ah, sepertinya aku memang masih belum bisa mengerti. Mungkin sampai suatu hari nanti, ketika aku menjadi seorang yang dipanggil ibu. Aku akan mengetahui apa jawabnya.

Bertahanlah

Ketika kamu tak sanggup lagi untuk berlari, Maka berjalanlah, Ketika berjalan pun tak sanggup lagi untuk kamu lakukan, Maka merangkaklah, Bertahanlah,  maka tapak demi tapak yang kamu lalui akan membawamu keujung, ke tempat dimana akhir perjalananmu. Bertahanlah.

Pelukan

Ketika masalah yang aku hadapi ini menyesakkan, kalimat pertama yang ingin aku dengar adalah 'bolehkah aku memelukmu?'. Diam. Tidak ada sepatah katapun, pelukan itu sudah lebih dari cukup menenangkan. Sungguh, aku tidak perlu mendengar kata-kata.

Mempertanyakan (Ke)Hidup(an)

Mempunyai adik yang menekuni kuliah di bidang kejiwaan sebenarnya sangat menyenangkan, tapi juga terkadang 'menyebalkan'. Karenanya saya suka sekali mencandai adek saya itu dengan kalimat seperti ini, "Ah adek ini emang (calon) psikolog yang butuh psikolog", dan sahutannya selalu saja seperti ini; "Iya, psikolog nya adek kan mbak". Hadeh, mati kutu saya dibuatnya. Susah mendebat adek saya itu. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dijadikan objek penelitiannya. Saya dipaksa dengan ancaman 'bukan mbak nya adek lagi' kalau tidak mau membantunya menyelesaikan tugas kuliahnya. Tugasnya kali ini membuat saya bertafakur, mempertanyakan kembali tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Namun yang sangat menyesakkan adalah fakta bahwa ternyata saya sering sekali berkoar-koar tentang pemahaman yang baik, tapi terkadang saya lupa diri, saya merasa menjadi orang yang munafik. Ah, semoga saja pemikiran itu tidak benar adanya. Here we go,,,

Tentang ibadah kita

Barangkali, dilahirkan dari ayah ibu yang taat beragama, berada di antara keluarga yang juga agamis, serta memiliki sahabat dekat yang selalu setia mengingatkan ibadah, menjadi berkah tersendiri bagi saya. Di sini, saya akhirnya tahu bahwa tidak sedikit dari orang-orang di sekitar saya yang lahir dan besar di lingkungan yang kurang akan nilai-nilai keagamaan. Alih-alih beribadah dengan rajin, beribadah dengan benar pun mereka acapkali keliru. Ibadah hanya dianggap sebelah mata. Satu dua kali tak apa lah meninggalkan shalat. Quran dibaca seminggu sekali, bahkan mungkin sebulan sekali atau lebih.  Lagu-lagu sepertinya lebih enak didengar dan dilafalkan ketimbang shalawatan. Kalau melihat mereka, rasanya saya bersyukur sekali paling tidak saya tidak sesederhana mereka dalam berfikir tentang konsep ibadah. Tapi, kalau melihat di luar sana, ada jauh lebih banyak lagi orang yang ibadahnya lebih rajin, lebih baik kualitas ibadahnya. Tidak pernah menunda waktu shalatnya, mengaji dengan t...

Entahlah...

Akhir-akhir ini sepertinya ada yang salah dengan diriku. Aku merasa paranoid dengan diriku sendiri. Ya, aku takut. Ketakutan yang teramat sangat. Aku takut dengan diriku sendiri yang meragukan tentang kehidupan. Sibuk bertanya tentang mengapa ada kehidupan. Mengapa Tuhan menciptakan kehidupan jika pada akhirnya ada kematian. Mengapa Tuhan seperti ini, seperti itu. Dan puluhan mengapa-mengapa lainnya. Ya Allah, sungguh aku sama sekali tidak meragukan-Mu. Tapi kenapa pertanyaan pertanyaan itu sangat menyesakkan pikiranku, hingga rasanya aku tidak bisa berfikir senormal yang lainnya. Rasanya semacam aku sudah gila. Kumohon dengan sangat, tolong aku...

Kagum-mengagumi-dikagumi

Kamu pernah mengagumi seseorang? Tergila dengan segala yang ia lakukan -bahkan hal terbodoh sekalipun? Kepo dgn segala yang ia perbuat. Berkali-kali melongok jejaring sosialnya (aku bangeeeet). Aku pernah, tidak sekali dua kali. Dan hingga saat ini masih saja. Percaya atau tidak, menurutku mengangumi itu menguras pikiran dan waktu. Bahkan tidak jarang malah menimbulkan iri hati. Ah, jujur saja, susah sekali untuk bisa mengubah kekaguman itu menjadi energi positif. Sepertinya aku memang masih harus banyak belajar untuk  bisa menjadi seseorang yang layak dikagumi :) Semoga.

Ketakutanku.

Kamu tahu apa yg paling aku takutkan ketika aku sudah memilikimu? Tidak, aku tidak takut kehilanganmu. Karena aku tahu suatu saat aku pasti kehilanganmu. Aku justru lebih takut, jika saat bersamamu aku selalu membandingkanmu dengan yang lain. Itu sungguh menyakitkan. Barangkali saja, Tuhan belum juga mempertemukan kita karena alasan itu. Aku masih terlalu sering membandingkanmu dengannya, dengan ia yang selama ini kukagumi tapi tak mungkin kumiliki. Aku masih meragukan bahwa kamu adalah yang terbaik bagiku... Maafkan aku...

Happy birthday 'big bro'

Barangkali ragamu memang sudah lama tercabik ratusan cacing di bawah gundukan tanah merah itu. Tapi kami yakin sukmamu masih terjaga, bersemayam di dunia paralel lainnya. Sementara, kenangan akanmu, masih tersimpan rapi di sini, di hati kami. Ini kali ketiga kami tak lagi mampu mengucapkannya langsung, tidak lewat telepon, pun sms. Atau sekedar ucapan basa-basi di wall facebook. Namun ucapan dari kami masih sama, seperti kali sebelumnya, seperti di setiap tengadah tangan kami seusai sujud panjang menemuiNya. Smoga Tuhan dan Malaikat-Malaikat di surga berkenan menempatkanmu di tempat yang terbaik untuk menunggu kami. Menjagamu hingga akhirnya kami datang. Tak hanya sekedar  berkunjung, tapi juga menemani. Hidup bersama kembali. Peluk rindu kami untukmu. …12 Maret 2013…

Ilusi ci(n)ta

Astaghfirullah, sepertinya akhir-akhir ini sudah banyak istighfar yang saya ucapkan. Banyak, terlalu banyak malah. Sungguh saya malu sekali, malu sekali pada Allah. Saya acapkali membanding-bandingkan apa yang sudah didapatkan orang lain dengan apa yang sudah saya dapatkan. Salah. Tidak sepert itu, mungkin seperti ini, saya membandingkan apa yang sudah Allah beri pada mereka dengan apa yang sudah Allah beri pada saya. Astaghfirullah, ampuni hamba Rabb... Satu dua kali, banyak kali-saking tidak terhitung banyaknya, saya lupa untuk bersyukur. Saya dibutakan ilusi bahwa apa yang didapatkan orang lain itu lebih berharga dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan. Entah dalam cinta, ataupun cita. Astaghfirullah, ampuni hamba Rabb... Saya punya Al Quran, saya membaca nya. Membacanya setiap hari, tapi tanpa hati. Tanpa memahaminya, lupa untuk menghadirkan hati, menghadirkan jiwa yang bersih ketika membacanya. Maka, jadilah saya, dibutakan ilusi, lupa bagaimana cara bersyukur. Astag...

Terserah

Terserah kali ini Sungguh aku tak ‘kan perduli Ku tak sanggup lagi Jalani cinta denganmu... Biarkan ku sendiri Tanpa bayang-bayangmu lagi Ku tak sanggup lagi Mulai kini s’mua terserah… Di mana arti sebuah kesetiaan Bila hanya dalam kata-kata Ku coba untuk bertahan Namun aku tak sanggup... -Glen Fredly, Terserah- Huft, sudah beberapa hari ini mood saya sedang tidak bagus. Entahlah, rasanya ingin 'meledak'. Ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Saya bahkan rasanya sudah muak untuk menangis, saya justru lebih senang membujuk hati saya untuk tetap baik-baik saja...

Ingatan Lalu

"Oh, Tuhan kumohon, tidak, jangan disini" batin gadis itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dua tahun lebih, ia berusaha bersikap wajar akan kepergian salah satu lelaki yang paling ia sayangi. Pagi ini, demi melihat seseorang yang duduk di depan gadis tersebut menggunakan telepon selular yang dulu pernah ia berikan pada lelaki itu, semua kenangan yang ia kubur dalam-dalam terkuak kembali. Bukan, bukan karena lelaki itu tidak berarti baginya sehingga ia memilih untuk tidak sedikitpun membagikan kenangan yang ia miliki. Tapi lebih karena ia ingin menyimpannya sendiri. Segalanya. Segala yang ia ingat tentang lelaki itu. Tidak pada siapapun. Tiba-tiba kelebatan kenangan masa kecil mereka hadir dalam pikiran gadis itu. Ketika mereka berangkat sekolah, bermain bersama, berebut menonton acara tv yang disukai, segalanya. Gadis itu mengingat dengan jelas. Seakan sebuah layar besar sedang menampilkan segala yang ia ingat itu dihadapannya. Tak ada yang terlewat sedikitpun. Lelaki it...

Di Tanggal dan Bulan Yang Sama

Apa yang perlu dirayakan dari sebuah usia, Sayang?. Kecuali rasa syukur tentang engkau yang tetap mencintaiku. - Anis Manshur Tidak seperti tahun-tahun sebelumya, tahun ini saya sengaja me- nonaktifkan publikasi tanggal lahir saya di salah satu jejaring sosial saya. Tidak ada alasan yang pasti mengapa saya memutuskan untuk bersikap demikian. Bukan karena saya malas membaca untuk kemudian me- reply satu persatu atau paling tidak memberikan sekedar jempol di tiap postingan 'happy birthday', 'hbd, wyatb' , atau semacamnya yang memenuhi-maaf-  wall saya, sungguh bukan. Saya sangat mengapresiasi mereka yang sudah meluangkan waktu untuk mengetik sekedar satu-dua patah kata memberikan ucapan pada mereka yang sedang berulang tahun. Bagi saya itu adalah salah satu bentuk perhatian yang sangat besar. Walaupun saya pribadi, kadang sering memberi ucapan selamat ulang tahun hanya sekedar basa-basi. Tapi jujur, doa yang saya tuliskan untuk mereka adalah benar adanya. K...