Langsung ke konten utama

Lebih hati-hati dan teliti? Harus!!!


Ya, tulisan kali ini sengaja aku beri headline seperti ini memang cukup beralasan. Berangkat dari kejadian beberapa hari terakhir, sepertinya aku memang harus belajar untuk lebih hati-hati dan teliti. Akhir-akhir ini aku memang terlalu ceroboh serta tidak hati-hati, grasa-grusu ketika melakukan suatu pekerjaan. Seperti kejadian siang tadi, bahkan rasa gélo atau penyesalan ini rasanya masih saja menempel. Sepertinya usahaku untuk menghilangkan rasa gélo itu belum maksimal. Ikhlas, ikhlas, ikhlas, hanya 1 kata itu saja yang sanggup kuucapkan untuk mensugesti otakku agar perasaanku bisa meresponnya.
Ceritanya seperti ini, jam 08.30 pagi tadi aku ada janji untuk bertemu temanku. Jujur, aku memang belum bisa in-time (on-time saja aku belum bisa apalagi in-time, malu aku), baru jam 08.35 aku berangkat dari kos. Sementara perjalanan dari kos sampai di tempat kita bertemu, kantin FKG, memerlukan waktu kira-kira 10 menit. Jadi, baru jam 08.45 aku sampai di parkiran, tidak menunggu beberapa lama setelah aku mengirim sms permintaan maaf karena terlambat, akhirnya kami bertemu. Karena obrolan kami langsung ke poin pembicaraan, jam 9 kurang 5 menit obrolan kamu pun selesai dengan ditutup pembicaraan untuk janji menambal gigiku pekan depan, temanku ini memang calon dokter gigi yang sedang koas. Setelah sampai di parkiran, aku baru sadar, aku tadi terburu-buru berangkat, aku tidak sempat membawa baju ganti untuk ibuku. Memang sebelumnya aku berniat untuk langsung berangkat ke rumah pak lek ku di Berbah untuk menjemput ibuku yang semalam menginap disana. Setelah aku sms ibuk memberitahukan bahwa aku akan terlambat menjemput, aku merasa lapar. Kulirik jam di tangan kiriku, sudah jam 9 lewat, pantas aku kelaparan, hehe. Dan tiba-tiba kesadaran itu datang, ” Ya Allah, aku ga bawa uang” batinku.

Hufft, ya sudah, aku mampir ke kos lamaku untuk meminta uang dari beberapa temanku yang berhutang uang pulsa.Sesampainya di kos lama, teryata temanku yang tagihannya banyak justru baru saja pulang ke rumahnya di Solo. Memang salahku juga sih tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, ya jelas orangnya ga adalah. Akhirnya aku meminjam uang dan menitipkan pesan pada temanku untuk meminta ganti pada temanku yang sedang pulang tadi. 20 ribu, cukup lah untuk membeli makan, ditambah uang pulsa, total uang yang aku pegang 28 ribu. Kuselipkan uang itu di dompet hitam gantungan kunci motorku. Kuputuskan makan nasi padang di Ambo dan mengambil menu nasi telur. Setelah selesai, aku membuka dompet hitam gantungan kunci motorku, dan membayar tagihan dengan uang pas, lembaran 20 ribu ku masih utuh. Di parkiran aku membalas sms adikku, cukup lama. Dan aku tidak sadar bahwa kancing dompet gantungan kunci motorku masih terbuka. Ah, aku ingat untuk membelikan hena (sejenis kutek atau cat kuku dari Arab yang sah jika digunakan untuk shalat), kemarin ibu bilang ingin dibelikan. Karena di Ambo yang juga menjual berbagai barang-barang herbal termasuk hena yang aku cari stock nya habis, maka aku memutuskan untuk membelinya di Fadhila. Toko yang aku tuju tutup, lalu aku memutuskan untuk putar balik membeli di Toko Ihya, ketika hendak memutar balik itulah aku baru menyadari gantungan kunci motorku yang tidak terkancing. Dan...(aku sempat tidak ingin berburuk sangka), ternyata aku hanya bisa menghela nafas panjang menerima kenyataan bahwa lembaran 20 ribu yang aku selipkan sudah tidak tampak lagi wujudnya. Aku masih berikhtiar dengan mencarinya di saku jaket, baju dan rok yang aku kenakan. Senyum di wajahku hilang, tentu saja jika saat itu aku mau melirik sedikit saja ke kaca spion motorku pasti lah aku bisa melihat raut muka yang sangat tidak menyenangkan. Ikhlas, ikhlas, ikhlas, ya, hanya satu kata itu yang aku gunakan untuk mensugesti diri.

Memang tidak seberapa nominal lembaran uang yang hilang itu, tapi jika harus memikirkan bagaimana sulitnya mendapatkan uang sebesar itu bagi orang-orang yang tidak mampu, maka rasanya sangat membebani pikiran. Itulah sebabnya perasaan gélo itu masih bersemayam di satu bagian hatiku. Aku jadi teringat juga, baru beberapa hari yang lalu aku menghilangkan juga two way cake (TWC) powder Wardah ku, bedak yang baru aku beli kurang dari 2 bulan yang lalu. Harganya cukup mahal 40 rb. Bagiku, untuk membeli barang-barang seperti itu rasanya sayang sekali, bahkan untuk membelinya pun aku mengumpulkan niat cukup lama. Hahaha. Dan see, barang yang aku beli dengan penuh perjuangan, hilang begitu saja. Hanya satu yang pasti, sama seperti kejadian hari ini, aku ceroboh ketika memasukkannya ke dalam tas kecilku, jadi mungkin ketika ia terjatuh di suatu tempat, aku tidak menyadarinya. Haaah, lagi-lagi, karena keteloderanku aku kehilangan lagi, memang tidak seberapa tapi jika mengingat perjuangan ayah dan ibuku mencari uang untuk membiayai hidup anak-anaknya, rasanya sangat miris jika aku dengan mudahnya menghilangkan uang yang susah payah mereka usahakan.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Ya, semua milik Allah akan kembali padaNya. Pada dasarnya, apa pun yang Allah berikan pada kita hanyalah titipan semata. Kita hanya di amanahi untuk menjaganya. Dan tentu saja, namanya juga titipan, ketika yang memilikinya meminta kembali apa yang telah ia titipkan, apa ya kita harus marah dan tidak mau memberikan apa yang dimintanya? Masya Allah, sungguh tidak tahu diri orang yang menolak untuk memberikan apa yang dititipkan kepadanya itu. Bahkan mungkin ia termasuk orang yang tidak amanah.
Sepertinya uang 20 ribu itu memang bukan rizki ku, barangkali orang yang menemukannya lebih membutuhkan uang itu dibanding aku. Ngomong-ngomong soal rizki, shalat dhuha adalah salah satu pintu rizki, dengan melaksanakan shalat dhuha minimal 2 rakaat, pintu-pintu rizki kita akan dibukakan oleh Allah. Setelah kuingat-ingat, pagi tadi aku sengaja menunda shalat dhuha ku karena takut semakin terlambat menepati janji (dan akhirnya tidak aku laksanakan). Di hari ketika aku kehilangan TWC ku pun aku sengaja meninggalkan dhuha ku karena takut terlambat menjemput ibu. Hanya demi alasan takut terlambat aku meninggalkan rutinitas shalat dhuha ku. Padahal, berapa lama sih shalat dhuha yang kulakukan? Hanya 2 rakaat saja, tidak sampai 5 menit.
Ya Allah, inikah caramu mengingatkan hambamu yang dhoif ini? Subhanallah (aku mengagumi caramu mengingatkan khilaf hambamu)...Astaghfirullah (aku memohonkan ampun atas dosaku karena menyepelekan anjuranMu untuk selalu menjaga shalat sunah dhuha)...Ya Allah, ampuni aku. Aku hanya berharap Engkau berkenan memaafkan khilafku ini. Banyak ibroh yang aku dapatkan hari ini, pelajaran untuk selalu menjaga shalat dhuha sesibuk apapun aku, pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menjaga barang-barang yang memang Engkau titipkan. Semoga di hari perhitungan kelak, di hari penghisaban amal perbuatanku, aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang tidak amanah. Amin. Amin. Amin.
Di sudut kamar yang penuh kehangatan, 13 Des 2010 13:15

Komentar

  1. masih belum bisa nulias kayak kamu say,,
    kamu bisa nyambungin semua sama ibadah dan yang lainnya..
    perspektifku masih diriku sendiri..

    sip! semangat terus say..

    BalasHapus

Posting Komentar