Langsung ke konten utama

Ternyata aq belum lulus :D


Ada cerita yang menarik di pagi hari kemarin. Setelah menunaikan shalat subuh dan rutinitas tilawah-ku, tiba-tiba Bunda (yang memang sudah hampir 2 minggu ini ada di Jogja) tiba-tiba memintaku membacakan bacaan shalat dari mulai Takbiratul Ihram hingga salam. Layaknya orang yang diminta melakukan sesuatu tiba-tiba, aku gelagapan. Tapi aku masih sempat bertanya kenapa Bunda memintaku seperti itu. Bunda dengan santainya menjawab; "Mama pengen tahu saja, kamu itu shalat jengkelat-jengkelit gitu hafal apa gimana to? shalat kok ekspress, kaya kereta eksekutif lewat aja ". Jawaban yang membuatku terkekek-kekek.
Dengan tingkat percaya diri yang tinggi, aku mulai membaca Doa Iftitah setelah takbir. Allahu akbar kabīran' wal hamdulillāhi katsīron' wa subhānallōhi bukrotan' wa-ashīlā. Innī wajjahtu wajhiya lilladzī fathorossamāwāti wal ardho...Deg. Masya Allah. Aku lupa, apa ya kelanjutannya? Ah, bunda juga gak akan merhatiin kalo ada yang kelewat, sengaja aku bablas kan saja bacaan ku dengan kalimah selanjutnya. Innashhalāti wanusuki wamahyāya wamamāti...
"Gak ada yang kelewat ya?" tegur Bunda. Kujawab dengan senyum yang dipaksakan. "Enggak kok, bener..bentar deh...Mama gak usah ngeliatin, aku kan jadi grogi" kataku berkelit dari tuduhannya. Berulang kali aku mengulang, dan berulang kali pula aku melewatkan kelanjutan kalimah Innī wajjahtu wajhiya lilladzī fathorossamāwāti wal ardho...
Setelah yakin bahwa aku tidak hafal bagian akhir kalimah tersebut, bunda membacakan arti kalimah tersebut "sesungguhnya wajahku kuhadapkan kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi, kuhadapkan dengan lurus dan pasrah diri, dan aku bukanlah golongan orang musyrik, Masih yakin bener juga?" tegas Bunda. Hwahahaha, yakin dengan sepenuh hati, mukaku saat itu sudah memerah dengan suksesnya, akibat malu yang tidak tertahankan lagi. Dan seperti biasa, akhirnya wejangan-wejangan, ceramah-ceramah keluar. Aku hanya bisa menundukkan kepala. Wejangan terhenti ketika Bunda memintaku melanjutkan bacaan shalatku, sepertinya Bunda yakin masih bisa mengkritikku lagi. Bacaan ruku, i'tidal, dan sujud lulus dengan nilai sempurna. Namun bacaan ku kembali terhenti di bacaan duduk diantara 2 sujud. Aku sempurna lupa. Kupaksakan mengingat, tapi tetap saja lupa. "Hafal ya?" sepertinya Bunda merasa menang. "Sebentar to mam, pokoknya ada bacaan warfa’nī warzuqnī wahdinī waˊafinī waˊfuˊannī- nya...Lha kalo lagi shalat sih aku inget mam, tapi kalo di suruh baca tiba-tiba gini kan aku gak bisa" rengekku, masih berusaha meyakinkan Bunda sembari memeras otakku, berharap muncul pencerahan. Ya Allah, tolong bantu aku, masih sempat aku membatin. Tapi akhirnya Bunda membantu juga dengan membacakan bagian awal kalimah tersebut "Rabbighfirlī... ". Segera aku menyetop bacaan Bunda, ya aku sudah menemukan kalimah bacaan yang aku lupakan itu. Akhirnya,,,tahiyatku hingga salam sukses aku bacakan. Dan dengan berbangga hati kukatakan, "Kalo bacaan tahiyat lupa kebangeten mam, itu kan cuma shalawat, mosok ya ga diluar kepala? sekalipun diminta tiba-tiba, kalo shalawat mah, aku juga bisa...Lulus kan mam aku???". Hehehe...
Bunda hanya menyahuti apa yang aku banggakan itu dengan wejangan yang tidak mungkin bisa aku lupa, "Kalo kita shalat, dan kita faham arti dari setiap bacaan shalat kita, insyaallah shalat kita jauh lebih khusyuk, karena setiap bacaan dalam shalat adalah doa, bukankah setiap doa adalah pengharapan? dan apakah setiap orang yang berharap akan sesuatu itu tidak mengungkapkannya tulus dari hati? ketulusan itulah yang akan mendatangkan kekhusyukan shalat kita"

Masya Allah, di hadapan Bunda, mungkin aku bisa dikategorikan lulus, tapi dihadapanMu, apakah aku sudah bisa engkau beri predikat kelulusan Ya Allah? masih sanggup berbangga hati aku? sungguh, kalo itu masih saja aku lakukan juga, aku termasuk golongan orang-orang yang sombong...Ya Allah, astaghfirullah...ampuni aku atas kesombonganku...

*25 Desember 2010, mulai kutulis setelah shalat dhuha^^

Komentar

Posting Komentar