Langsung ke konten utama

Kelok Hidup (Bagian 1)

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin membuat tulisan dengan tema ini. Tepatnya sejak saya dinyatakan sebagai peringkat 3 dari 27 orang yang mengikuti rangkaian tes hingga tahapan akhir untuk salah satu jabatan fungsional di lembaga tempat saya mengabdi saat ini, 25 Desember 2013. It's almost 4 years ago . . . Dan kemudian saya merasa, "Ya ampun, serasa baru kemarin saya belajar untuk tes kucing-kucingan (selain nama tes ini memang kucing dalam bahasa Inggris, hehe ^^, saya juga benar-benar kucing-kucingan mencari waktu untuk belajar di sela-sela pekerjaan dan kelelahan saya), serasa baru kemarin punggung tangan saya distempel oleh panitia, serasa baru kemarin saya menangis tergugu di sela sujud shalat maghrib setelah membaca pengumuman akhir kelulusan".

Bukan, tulisan ini bukan tentang bagaimana tips dan trik agar diterima sebagai pegawai negeri. Maaf kalau itu yang dicari dari tulisan ini, saran saya sebaiknya sudahi saja membacanya. Ada banyak tulisan dari situs pribadi ataupun web, juga bacaan di toko buku yang memuat hal tersebut. Disini yang ada hanya tentang niat, ikhtiar, tawakal, kesabaran, keikhlasan dan doa yang membawa pada ketetapan yang baik dari Yang Maha Baik.

Lepas menyelesaikan pendidikan kuliah, saya sama sekali tidak memiliki niatan menjadi seorang pegawai negeri. Atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, bisa dikatakan jauh sebelum saya lulus, saya tidak ingin mengabdi sebagai pegawai negeri. Why? Karena mindset saya masih sama seperti orang pada umumnya, bahwa untuk menjadi bagian dari pegawai negeri butuh lebih dari sekedar kepintaran, tapi juga kecerdikan melihat peluang. Di tahun kelulusan saya -yang saat itu masih diberlakukan moratorium penerimaan pegawai negeri, ada salah satu Lembaga yang membuka pendaftaran. Saat itu, saya hanya setengah hati mengumpulkan semua persyaratan untuk mendaftar, terutama karena salah satu persyaratan yang dibutuhkan adalah harus adanya nilai tes TOEFL ITP. Hello, bukan saja karena dibutuhkan waktu minimal 5 hari kerja hingga hasil tes ini bisa kita dapatkan, biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti tes yang tidak sedikit, tetapi juga karena waktu penyelenggaraan tes yang terjadwal. Kebetulan, saat itu jadwal terdekat pelaksanaan tes diselenggarakan di salah satu institusi perguruan tinggi yang berada tidak jauh dari rumah. Sahabat saya yang rumahnya berjarak kurang lebih 9 jam perjalanan menggunakan kereta api menuju kota tempat saya tinggal, rela mengikuti tes tersebut agar bisa melengkapi berkas administrasi pendaftaran. Maka, saya pun (dengan banyak keengganan yang mengganjal -haha) menemaninya untuk mengikuti tes tersebut. Saat itu saya masih belum bekerja, jadi saya pikir apa salahnya mencoba. Singkat cerita, nilai yang saya dapatkan memenuhi persyaratan untuk mendaftar, sehingga akhirnya saya mengirimkan berkas pendaftaran di hari-hari akhir batas pengiriman untuk seleksi administrasi. 
diambil dari sini :)

Hasilnya? tidak perlu diragukan lagi, saya LULUS seleksi administrasi, dan diberikan kesempatan untuk mengikuti tahapan selanjutnya, yaitu Tes Kemampuan Dasar. Tes yang saya lakukan pada tahun tersebut masih klasik, menggunakan Lembar Jawaban Komputer. Dua setengah  jam yang membuat punggung dan leher kepala saya pegal karena harus menunduk mencermati soal-soal, mencari jawaban yang paling masuk akal. Hei, mengapa saya bilang yang paling masuk akal? Karena saya tidak tahu jawaban yang benar yang mana. Hahahaha. Soal yang diberikan terlalu mudah, tapi jawaban yang ditawarkan terlalu membingungkan, hampir semua opsi masuk akal.

Satu atau dua bulan kemudian, saya menangis bahagia tetapi juga tertawa sedih, saat nama saya (juga sahabat saya) tidak ada di dalam dafar nama yang dipanggil untuk mengikuti tahapan selanjutnya. Eh, atau hanya satu tahapan ya saat itu? sehingga langsung dinyatakan lulus? Ah sudahlah, lupakan, bukan sesuatu hal yang penting untuk diingat. Hahahaha.

Apa saya sedih atau kecewa? Nope. Karena saya tidak berharap banyak.
Rasa kecewa itu muncul karena apa yang kita dapatkan, tidak sesuai dengan harapan.
Saat saya mengikuti tes, saya baru 1 minggu bekerja di salah satu perusahaan konsultan pemetaan di Jakarta. Yang saya fikirkan saat itu hanyalah bahwa Sang Maha Mengatur sudah menatanya sedemikian rupa, sehingga rasa sedih atau kecewa yang tidak seberapa besar itu sepertinya menguar, terlupakan begitu saja. Tidak mengendap dan bersemayam di sudut hati.

PS : Bersambung ke bagian 2 ya, diposting besok kalo ndak ada halangan :)


Komentar

  1. Balasan
    1. sik nduk, ritme hidupku belum normal. tsaaah.. aq belum bs meluangkan waktu buat bikin lanjutan ceritanya. tapi karena pengumuman penerimaan cpns gelombang kedua sudah publish, ya aq usahakan secepat mungkin kulanjutkan ya. sabar cin, chu :*

      Hapus

Posting Komentar