Langsung ke konten utama

Seberapa kuat mentalmu?

Yup, judul tulisan kali ini benar-benar berdasarkan pengalaman yang aku rasakan sendiri. Sudah kali kedua aku merasakan bahwa yang kamu butuhkan untuk melanjutkan sekolah itu tidak sekedar faktor 'luck' semata, tapi seberapa kuat mentalmu menghadapi realita yang suka tidak suka ataupun mau tidak mau kamu hadapi ketika pada akhirnya kamu kembali mengenyam dunia akademis.

Kali pertama mentalku jatuh adalah ketika proses mendapatkan "Certificate of Health". Sebagai salah satu persyaratan administrasi, salah satu isian form tes kesehatannya adalah untuk hasil tes darah dan tes urin-feses. Setelah menjalani serangkaian tes, aku dan teman-teman diminta untuk bertemu dengan dokter yang akan menandatangani Surat Keterangan Sehat.
Tanpa dinyana, tidak ada angin tidak ada geluduk, tetiba hujan turun dengan derasnya. Ya, hujan turun dihatiku, saat dokter yang menerima berkasku langsung bertanya setelah membaca sekilas hasil lab; "Ada keturunan diabetes? Ayah? Ibu".
Dengan tatapan bingung aku hanya bisa menjawab "Ndak ada dok, kenapa ya?".
Dokter itu menjawab pertanyaanku dengan kembali bertanya; "Terakhir makan kapan Mbak?". Lantas aku memberikan jawaban bahwa aku terakhir makan jam 11 siang, saat itu sekitar jam 2 sore.
"Oke, ini saya buatkan surat pengantar untuk ke Lab, Mbak nya puasa buat tes gula darah besok jam 8. Nanti terakhir makan jam 8 ya, makan nasi putih sepiring lengkap dengan sayuran, protein nabati dan protein hewani lengkap. Setelah itu tidak boleh makan atau minum apapun kecuali air putih".
Dengan terheran-heran dan polosnya aku kembali bertanya "Kenapa ya Dok? Saya besok jam 8 saya ada kelas Dok, saya tidak bisa kalo jam 8".
Dokter hanya menjawab "Ya Mbak bisanya jam berapa, pokoknya tidak lebih dari 12 jam, setelah 12 jam nanti makan lagi dengan porsi yang sama seperti semalam lalu kembali lagi 2 jam setelahnya untuk memberikan sampel urin lagi. Jadi 2 kali ya ambil sampelnya".
Pertanyaan ketiga kalinya yang aku utarakan tentang "Kenapa" akhirnya dijawab dengan penjelasan bahwa kadar LLG (atau apalah namanya itu, aku lupa namanya, nanti kulihat dulu ya di copy file hasil labnya, nanti kuperbaiki, itupun kalo aku nemu berkasnya yang aku lupa dimana menyimpannya, hahaha) melebihi standar dan aku terdiagnosis diabetes.
DIABETES?
DIABETES?
DIABETES?

Penjelasan lanjutan dari sang dokter tidak ada yang masuk ke dalam telinga maupun otak ku. Yang ada hanyalah pertanyaan semacam "mengapa? masa sih? kok bisa aku didiagnosis seperti itu?" dan pikiran-pikiran negatif lainnya tentang bayangan penderita diabetes.
Keluar dari ruangan dokter dengan membawa selembar surat pengantar, teman-teman bertanya mengapa aku tidak "diloloskan", aku hanya menjawab sekenanya, diminta tes gula darah dulu, sepertinya aku terlalu manis. Hahahaha...

Iya, jadi beberapa teman pun ada yang tidak lolos seleksi, ada yang didiagnosis "gangguan hati", ada yang di pencernaannya bermasalah karena ditemukan "cacing dan amoeba" di sampel fesesnya, ada juga yang terindikasi terpapar TBC karena hasil tes mantoux nya menghasilkan bentolan merah dengan diameter lebih dari 8mm, dan bermacam-macam "drama penyakit" lainnya. Tapi fakta bahwa tidak ada yang seperti aku, itu yang justru membuat mentalku jatuh. Ya, bohong jika kukatakan di depan teman-teman bahwa aku tidak apa-apa. Aku benar-benar down saat itu.

Aku kalut dan tidak bisa berfikir jernih. Pulang dari klinik, aku kembali ke studio mengambil tas dan langsung pulang. Tapi aku tidak benar-benar pulang, di tengah jalan, aku justru memarkirkan motorku ke sebuah toko buku. Disana aku mencoba menghubungi Bulik (tante) melalui whatsapp dan bertanya apakah ada keturunan diabetes di keluarga. Bulik langsung menelfonku dan memberi tahu bahwa "simbahnya simbah" itu penderita diabetes. Huwaaaa, jawaban itu justru semakin membuatku down. Berbagai macam penjelasan dari Bulik tidak aku tanggapi. Aku justru semakin denial. Ya, aku menolak menerima kenyataan. Tetapi, di akhir penjelasan, Bulik menyemangatiku dengan menyarankan untuk mempersiapkan diri jika memang harus tes gula darah, tetapi sebelumnya mencari second opinion dari dokter lain.

Malam itu, sesampainya di rumah, aku sibuk melanjutkan pemikiran negatif dan semalaman hanya berkutat dengan berulang kali searching dan scrolling di handphone tentang penyakit diabetes dan berbagai hal yang terkait dengannya. Untuk kemudian berakhir pada pernyataan sekaligus pertanyaan bahwa aku belum menikah dan aku belum punya anak, tapi kok Gusti Allah dengan tega nya memberikan "penyakit" ini kepadaku. Astaghfirullah, dipikir-pikir, lebay juga ya? Alih-alih semakin mendekatkan diri sama Gusti Allah untuk kemudian meminta agar diagnosis tersebut keliru, aku justru malah "menyalahkan". Allahu Rabb, ampuni aku yang masih saja seperti itu.

Esok harinya, dengan masih berpuasa dan selepas kelas di pagi hari, aku kembali ke klinik dan menemui dokter yang berbeda. Kusampaikan kekhawatiranku dengan mata berkaca-kaca dan kusampaikan pula bahwa aku sedang berpuasa sehingga jika harus tes, aku sudah siap. Dokter ini hanya tertawa dan bertanya, "Waktu kamu ambil sampel untuk tes ini kamu makan apa dan berapa jam sebelumnya?". Aku mencoba mengingat-ingat dan akhirnya kusampaikan bahwa tidak sampai 10 menit sebelum tes, aku makan sebuah onigiri instant yang aku beli di minimarket dan sekotak susu karamel. Tawa dokter didepanku itu semakin menjadi setelah mendegar jawabanku. Aku hanya bisa melongo. Kemudian dokter itu meminta suster disampingnya mengambil sampel darahku dan mengeceknya dengan Glukometer (alat cek gula darah). Saat hasil angka di alat ukur menunjukkan angka 86, dokter tersebut otomatis berseru "Tuh kan normal". Dilanjutkan dengan penjelasan bahwa angka yang muncul di hasil labku kemarin adalah angka gula darah sesaat dan aku tidak perlu khawatir, hanya saja aku harus merubah pola hidupku jika tidak ingin kekhawatiranku itu menjadi kenyataan.

Dan air mataku seketika tumpah...

Drama banget ya? Iya, kalau diingat-ingat ini hanyalah salah satu drama remeh yang membuatku tidak semangat lagi melanjutkan perkuliahan. Aslinya, ada banyak drama yang jauh lebih seru ketimbang drama Azab yang tayang di salah satu televisi swasta itu. Hahahahaha...

Sudah dulu, ada banyak drama lain yang harus kuhadapi. Kapan-kapan kuceritakan tentang drama lainnya, haha.

Tabik!




Komentar