Langsung ke konten utama

Adakah hubungan Pertemanan Laki-laki dan Perempuan?

Saya pribadi akan menanggapi pertanyaan dalam judul tulisan kali ini dengan jawaban positif, tentu saja ada. Ya, saya adalah orang yang percaya bahwa hubungan pertemanan lawan jenis itu ada.

Lucunya, saya memiliki kawan yang bersikeras bahwa hubungan semacam itu tidak pernah mungkin ada. Kawan saya itu dengan yakinnya mengatakan bahwa pasti ada rasa lebih dari sekadar teman di salah satu pihak, entah di perempuan atau di laki-lakinya. Tahun-tahun yang lalu kami selalu berdebat ketika tema ini kembali muncul, terutama jika muncul di drama korea yang kami tonton bersama. Hahahaha. Dan pada akhirnya, kami sepakat untuk tidak sepakat.

Sepertinya pengalaman membuat kami memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya, kebetulan bersahabat dengan seorang kawan laki-laki yang kebetulan seusia almarhum kakak saya yang merupakan senior di kantor tempat saya bekerja. Kebetulan kawan saya ini sudah menikah dan istrinya seusia saya. Saya lupa bagaimana awalnya kami mulai berteman. Hanya saja yang tidak pernah saya lupakan adalah pertanyaan 'Jum (ini panggilan saya, singkatan dari Juminten -sial, tidak bisa kah kamu memberi nama panggilan lain Om?), untuk ulang tahun pertama anak perempuan biasanya dikasih kado apa ya?'. Pertanyaan itu muncul di bulan ke-4 kami berkenalan. Saya pikir itu hanya pertanyaan basa-basi yang tentu saja dijawab ala kadarnya saat itu. Sampai saya sadar, wow, saya baru saja mengucapkan selamat ulang tahun ke-7 untuk anak perempuannya itu beberapa minggu yang lalu. Iya, ternyata sudah selama itu kami berteman. Hahaha.

Saya cukup tahu (kalau tidak boleh mengklaim sangat tahu) bagaimana bucin-nya kawan saya ini terhadap istrinya. Ingatan saya juga cukup kuat, dimana sepanjang waktu kita berteman tidak ada bosannya kawan saya ini mengejek kesendirian saya, mencela saya yang dikatakannya terlalu pemilih, yang saya tahu betul sebenarnya kesemuanya itu pada dasarnya adalah bentuk kepeduliannya dalam mengingatkan saya untuk memberikan teman sepermainan bagi anaknya (ah, susah sekali bahasamu, bilang saja mengingatkan untuk menikah). Akhir-akhir ini ejekan diantara bahasan julid dan sambatan kehidupan tak lagi muncul, mungkin sudah bosan, mungkin juga karena bahasan kita tidak lagi fokus pada kehidupan pernikahan, tapi tentang ilmu kehidupan itu sendiri, terlebih untuk bisa menjadi manusia dewasa yang bisa memanusiakan manusia lainnya.

Sebelum menulis disini, saya baru saja mengakhiri percakapan kami via whatsapp, kali ini saya menegurnya yang membuat status di whatsapp dengan meme yang berisi konten julid. Tentu saja opening words "Boleh kasih masukan Om? No offense tapi ya?" selalu saya ajukan ketika hendak mengoreksi atau tidak jarang mencacat, walaupun saya tahu kawan saya ini tidak akan tersinggung. Sejauh ini, kami berkawan dengan cara yang dewasa walaupun tak jarang ada banyak umpatan yang keluar dalam percakapan kami, entah dari dia atau dari saya sendiri. Iya, kawan saya ini adalah satu dari sedikit orang yang tahu (dan mau menerima kenyataan) bahwa saya juga bisa mengumpat menggunakan kata-kata yang tidak semestinya, terutama dalam bahasa Jawa. Hahaha. Jika saya salah, dia tidak segan menegur, pun sebaliknya. Jika salah satu dari kami pantas mendapat pujian, kami pun tidak sungkan untuk saling mengapresiasi. Saya rasa, kami memang berteman apa adanya kami, tanpa kepura-puraan. Dan saya rasa, itu adalah persamaan yang membuat kami pada akhirnya bisa bertahan untuk berteman sejauh ini.

Saya tidak pernah memaksa kawan saya yang tidak percaya adanya hubungan pertemanan lawan jenis itu ada dengan mengajukan bukti nyata pertemanan saya ini. Pengalaman membentuk keyakinan yang dipegang oleh seseorang, siapa tahu kawan saya ini akan memberikan jawaban positif di masa yang akan datang jika ia memiliki pengalaman yang sama. Sekali lagi, sampai saat ini, kami sepakat untuk tidak sepakat dalam hal ini.

Tabik!

Komentar