Langsung ke konten utama

Coba baca dulu, baru katakan itu menarik!


Baru saja aku menghatamkan membaca buku yang berjudul Qum! karya Fahd Djibran. Entah mengapa aku jadi teringat kali pertama ketika kuputuskan untuk membacanya. Bukunya kecil berwarna hitam, berbentuk kotak, covernya bergambar sekuntum mahkota bunga mawar berwarna orange (atau peach?). Dari covernya yang sungguh teramat minimalis (kalau tidak bisa dikatakan tidak menarik) itu, mungkin banyak orang yang enggan untuk memulai membaca (paling tidak membuka saja) halaman pertamanya. Judulnya yang sangat mengambang (tidak jelas apa arti dan maksudnya, kecuali setelah kalian membaca isi bukunya), ditambah kata-kata di belakang buku yang hanya berisi selarik kutipan dari Mohammad Iqbal; “Tuhan bisa tak aku percayai,tapi Muhammad tak “, justru membuatku semakin penasaran. Apa sih ini buku, aneh banget! Bismillahirrahmānirrahīm..halaman pertama, kaligrafi Muhammad, halaman kedua, kulewati begitu saja, halaman ketiga...untuk mereka yang (ingin) mencintai, dan ingin dicintai Muhammad Rasulullah...Deg, hatiku berdebar tak keruan. Daftar Isi, ada 8 chapter, tidak termasuk Prolog dan Epilog. Hmm, cukup menarik. Halaman demi halaman aku baca dengan penuh kehati-hatian. Ternyata buku ini kalau boleh kukatakan adalah sekumpulan Surat Cinta yang tertuju pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Masya Allah, deraian air mata mengalir di setiap halamannya.

Ada 2 kutipan dari buku ini yang sangat menarik untukku, yang berulang kali pun aku membacanya tetap saja bergetar hati ini, ada sesuatu yang rasanya menyesakkan dada, perasaan yang membuncah antara haru dan malu. Pertama, puisi Camelia Bader yang berjudul Aku Ingin Tahu. Dan kedua, hadist Qudsi yang bercerita tentang keheranan Allah melihat perilaku hambanya yang janggal lagi bodoh. Semoga rasa ini tidak hanya berhenti sebagai perasaan saja, semoga ada usahaku merubah diri untuk semakin mendekat kepada ciptaan Allah yang paling mulia ini. Usaha ini aku mulai dengan membagi kutipan ini kepada orang-orang di sekitarku. Aku ingin semua orang membaca tulisan ini. Walaupun aku tahu usahaku ini tak seberapa, semoga ini bisa menjadi salah satu caraku untuk semakin dekat dengan kekasih Allah. Amin...

Kesimpulan di akhir bacaanku kali ini membuatku tersenyum, ternyata jika kita ingin mencari hal yang menarik dari sebuah buku yang menurut kita tidaklah cukup menarik, bukalah halaman pertama, jika kamu tidak menemukannya, bukalah di halaman kedua, jika tidak juga kamu temukan, bukalah halaman ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Hingga ketika kamu tiba di halaman terakhir, maka kamu akan menyadari hal yang menarik adalah kamu berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku yang awalnya kamu pikir tidak menarik. Sederhana bukan?


Aku Ingin Tahu *)

Bila Nabi Muhammad mengunjungimu barang sehari atau dua
bila ia datang tak disangka-sangka, aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan?
Oh, aku tahu kau akan menyediakan ruangan yang terbaik bagi seorang tamu yang begitu terhormat

Dan semua makanan yang kau hidangkan padanya adalah makanan yang terlezat
dan kau akan terus meyakinkannya, bahwa kau senang dikunjunginya,
bahwa melayaninya di rumahmu sendiri adalah suatu kebahagiaan tiada bandingannya

Tetapi, apabila kau melihatnya datang, akankah kau menemuinya di pintu
dengan tangan terulur menyambut tamumu nan surgawi
Atau...akankah kau mengganti pakaianmu sebelum kau menyilakannya masuk?
Atau menyembunyikan majalah-majalah dan mengedepankan al-Quran?
Masih akankah kau menonton film-film tak senonoh yang ditayangkan pesawat TV-mu?
Dan membaca buku-buku yang kau baca?
Dan membiarkannya mengetahui segala sesuatu yang mengisi pikiran dan semangatmu?

Akankah kau mengajak Nabi bersamamu, kemanapun kau pergi?
Atau, akankah kau, mungkin, mengubah rencanamu untuk berangkat sehari dua?

Akankah kau gembira memperkenalkannya kepada kawan-kawan karibmu?
Atau akankah kau berharap mereka akan menjauh sampai kunjungannya usai?
Akankah kau senang bila ia tinggal denganmu untuk selama-lamanya?
Atau, akankah kau merasa lega dengan kelegaan yang besar, apabila ia akhirnya pergi?

Barangkali menarik juga mengetahui segala apa yang akan kau lakukan
bila Nabi Muhammad datang secara pribadi
untuk menghabiskan beberapa saat bersamamu!

*) Puisi Camelia Bader dari kumpulan puisi O Muhammad, Puisi Cinta Untuk Nabi, diterjemahkan oleh Miftah F. Rahmat

Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tetapi ia hidup bersukaria.
Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban amal perbuatan kelak di akhirat, tetapi ia asyik mengumpulkan dan menumpuk harta.
Aku heran pada orang yang yakin akan alam kubur, tetapi ia tertawa tebahak-bahak.
Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tetapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai.
Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tetapi ia mencintainya.
Aku heran pada orang-orang pandai yang ternyata bodoh dalam akhlak.
Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya tetap kotor.
Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat aib orang lain, sementara ia tidak menyadari cacat dan aib pada dirinya sendiri.
Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah selalu mengawasi perilakunya, tetapi ia berbuat durjana.
Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu dimintai pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tetapi berharap belas kasih dari orang lain.

13 Januari, di sudut kamar yang suatu saat aku rindukan.
-uzlifatul jannah-

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015