Sebagai seorang wanita, walaupun sampai saat ini saya belum pernah menjadi seorang ibu. Saya rasa, kedua hal tersebut sama-sama menyakitkannya. Bukan sekali dua saja, saya mendengar berita tentang kematian atau kehilangan seorang anak. Bulan kemarin, ketika menjenguk istri kakak sepupu saya yang baru saja melahirkan anak keduanya, di ruang perawatannya, tidak sengaja saya bertemu dengan seorang ibu muda yang saya terka barangkali usianya tidak jauh berbeda dengan saya. Ketika seorang suster mengantarkan bayi kakak saya, ibu muda itu hanya tersenyum memperhatikan, namun pandangannya menerawang jauh. Kakak saya berbisik bahwa ibu muda itu baru saja kehilangan putera pertamanya, kandungannya mengalami keguguran. Saat kakak saya sedang sibuk menyusui anaknya, saya mencoba berbincang dengan ibu muda itu. Hal yang membuat saya kagum adalah ibu muda itu berkenan untuk berbagi cerita. Dengan mata berkaca-kaca menahan haru ia bercerita. Dari cerita ibu muda itu, saya belajar tentang hidup. Tidak mudah untuk menceritakan hal yang merupakan pengalaman tidak menyenangkan dalam hidup kita. Saya tahu, ibu muda itu tentu kesulitan untuk menahan emosi untuk tidak marah pada kenyataan bahwa anaknya lah yang Tuhan pilih untuk kembali padaNya. Tapi ibu muda ini berusaha sekuat tenaga mengikhlaskan kepergian anak pertamanya. Ibu muda ini mengamini saja ketika saya berkata padanya bahwa anaknya sedang membangun sebuah tempat bagi ibunya di surga kelak.Lalu saya bercerita pada ibu muda itu tentang ibu saya yang juga mengalaminya, pertama sewaktu mengandung putera ketiga nya, mati di dalam kandungannya, masih berupa janin walaupun usianya sudah genap 6 bulan kandungan. Saat itu usia saya masih sekitar 8 tahun, saya tidak begitu ingat apakah ibu saya menangisi kepergian ‘adik’ bayi itu atau tidak. Yang saya ingat hanya, saat itu adik bayi dibawa pulang ke rumah dengan kantong plastik hitam (boleh saya bilang “kantong kresek”?) oleh ayah untuk segera di makamkan di halaman depan rumah. Ah, bahkan sekarang rumah yang ada makam adik saya itu sudah dijual. Pun ketika pemakaman adik bayi itu, ibu masih berada di rumah sakit. Ibu tidak pernah tahu bagaimana rupa dari putera ketiganya. Kali kedua ibu saya ditinggal mati adalah oleh putera pertamanya. Ya, kakak saya, karena saya adalah anak kedua dari pernikahan ayah dan ibu. Bahkan kematian kakak saya ini belum genap 1 tahun saat ini. Kakak saya berusia 24 tahun ketika meninggal. Ia meninggal karena sakit. Saya rasa saya tidak bijak untuk menceritakan bagaimana dan mengapa kakak saya sampai bisa meninggal karena sakit yang dideritanya. Yang bisa saya jelaskan adalah bahwa Tuhan jauh lebih menyayanginya, karenanya Ia lebih berkenan mengambil kakak dari sisi ibu. Baru kali kedua Tuhan mengambil titipanNya dari ibu saya inilah, saya mulai bisa sedikit memahami bagaimana perasaan ibu saya. Saya tahu, saya mungkin tidak bisa benar-benar tahu bagaimana perasaan ibu saya, hanya saja sejak kematian kakak saya, ibu tidak pernah pulang ke rumah. Saya cukup bijaksana memahami bahwa barangkali memang tidak mudah untuk menerima kenyataan jika ibu saya tetap harus tinggal di dalam rumah dimana kakak saya pun pernah ada di dalam rumah itu.
Kembali ke topik pembicaraan kita di awal, mengerucut pada pertanyaan mana yang lebih sulit untuk diterima bagi seorang Ibu, mengetahui kematian atau menerima kenyataan kehilangan anaknya? Yang sedari tadi saya ceritakan barulah sebagian kecil fenomena yang terjadi di sekitar kita. Di luar sana, ada banyak wanita-wanita tangguh yang berstatus ibu dari anak-anak yang dilahirkannya yang juga pastinya tidak sedikit pula yang memiliki cerita yang sama seperti ibu muda tadi ataupun ibu saya. Namun, untuk bercerita tentang kehilangan seorang anak agaknya jauh lebih rumit di banding kematian. Karena hilang adalah kondisi dimana sesuatu itu pernah ada di sekitar kita, namun saat ini tidak lagi. Hanya saja, kita tidak pernah tau apakah sesuatu itu masih ada atau memang atau sudah tidak ada. Saya jadi teringat sebuah acara di stasiun televisi yang setiap pagi mengumumkan beberapa nama orang hilang. Tidak jarang yang diberitakan hilang adalah anak-anak kecil. Hati saya kadang terenyuh ketika yang menceritakan itu adalah ibu dari sang anak. Saya benar-benar kagum pada ibu yang mampu menceritakan kehilangan anaknya tanpa linangan air mata. Saya sungguh menghargai keikhlasannya. Ah iya, baru tadi pagi pula saya melihat berita tentang kehilangan seorang anak. Sudah hampir 3 bulan ini orang tuanya, pasangan muda yang bahkan usianya jauh lebih muda dari usia saya, kehilangan puteranya yang berusia 2,5 tahun. Terlepas dari kenyataan bahwa seringkali anak-anak kecil itu hilang ketika luput dari pengawasan orang dewasa di sekitarnya, saya sunguh merasa kehilangan juga.
Naluri keibuan adalah fitrah wanita. Barangkali jika selama ini saya begitu terenyuh menerima kenyataan kematian ataupun kehilangan seorang anak, itu adalah hal yang sangat wajar karena saya seorang wanita. Hanya saja, sekali dua saya begitu menyayangkan karena masih saja ada wanita yang berstatus sebagai ibu yang tega menghilangkan hidup anaknya, entah ketika ia masih di dalam kandungan pun ketika sudah terlahir ke alam dunia. Semoga ketika saya mendapatkan status sebagai seorang ibu, saya mampu menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan yang berharga, sehingga ketika saya dihadapi kenyataan kematian atau kehilangan, saya mampu bersikap sebagaimana mestinya untuk dengan bijak menerima kenyataan tersebut.
Yogya, 5 Mei 2011 : Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu, wanita hebat yang pernah ada dalam hidup saya, dan juga calon anak-anak saya.
Komentar
Posting Komentar