Langsung ke konten utama

keluwesan menempatkan diri :)

Horeee, akhirnya setelah beberapa hari saya absen menulis. Aw, aw, aw. ketemu lagi.. hehehe..
Mmm, kali ini saya ingin berbagi tulisan mengenai adaptasi diri. Adaptasi? ah, dulu lho, pas jaman SMP, kita pernah diajari tentang apa itu adaptasi. Hayoo, inget engga? Yup, adaptasi (kurang lebih) adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan agar mampu bertahan hidup. Ah, tapi saya lebih suka mendefinisikan adaptasi atau penyesuaian diri itu sebagai keluwesan dalam menempatkan diri. Saya rasa ini termasuk bagian yang cukup sulit dalam kita bersosialisasi. Pasalnya, dengan banyak orang, banyak kepala, banyak pemikiran, ujung-ujungnya ya banyak karakter pula. Ketika kita berada dalam sebuah komunitas, entah itu keluarga, kawan kuliah, tetangga rumah, rekan kerja, rasa nyaman yang akan kita dapatkan berawal dari keluwesan kita dalam menempatkan diri. Dalam artian, kita tahu apa dan bagaimana posisi kita saat berada di sebuah komunitas. Tanpa keluwesan, saya berani menjamin bahwa rasa nyaman itu akan sulit di dapatkan.

Eh, saya tidak berbicara tentang sebuah profesionalitas lho ya? ini beda ranah, saya sekedar membahas tentang penempatan diri yang sesuai. (hasembuh lah, apapun itu bahasanya, hehe). Misalnya saja nih ya, boleh jadi di sebuah komunitas sana kita adalah seseorang yang punya jabatan tinggi yang di segani oleh banyak orang, atau seorang putri yang dimana semua kebutuhannya cukup disampaikan pada para pelayannya. Namun berada di komunitas lain, jabatan tersebut belum tentu berlaku juga. Boleh jadi saat kita berada di komunitas lain, kita mendapatkan perlakuan yang berbeda dari lingkungan di komunitas tersebut. Perlakuan yang berbeda ini yang kadang membuat kita menjadi sedikit shock, merasa tidak dihargai, merasa tidak dimanusiakan (lebay banget kalo bagian yang ini, hehe. tapi it's real, ada lho orang yang merasa seperti itu -yang jelas bukan saya, hahaha). Faktanya, tidak sedikit orang yang merasa tidak nyaman ketika berada di komunitas yang berbeda dengan komunitas selama ini dia berada. Nah, disitulah dibutuhkan sebuah keluwesan. Keluwesan, dengan di tambah sedikit saja keiklasan, penerimaan diri, pengesampingan ego, sesaat saja, cukup di awal ketika kita memasuki komunitas tersebut, maka percayalah akan tumbuh rasa nyaman itu. Rasa nyaman yang akan membuat kita mampu bertahan berada di komunitas tersebut. Ibaratnya, jika kita satu ketika harus menjadi Upik Abu, maka jadilah Upik Abu walau mungkin sebenarnya kita adalah Cinderella :)

Terakhir, seperti halnya teori evolusi Darwin yang sudah sangat terkenal (terkenal diruntuhkan pula), hanya makhluk hidup yang mampu beradaptasi lah yang akan bertahan hidup, saya rasa teori ini masih relevan untuk kasus kita kali ini, hanya saja tentu dengan diksi yang sedikit berbeda, hehe. Gimana kalo teorinya jadi seperti ini;

hanya orang-orang yang luwes menempatkan diri lah yang akan merasa nyaman, hingga akhirnya mampu bertahan hidup

http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
ahahaha,  bagus kan teori nya? mwahahahaha.
salam unyu-unyu :*

Komentar

Other Story

Sedikit Bocoran untuk para "Scholarships hunter of Pusbindiklatren Bappenas"

Yak , sepertinya tulisan pertama yang akan berhasil publish semenjak blog ini resmi berganti nama menjadi "diary dudul" adalah tulisan tentang bocoran untuk para pemburu beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Kebetulan saat ini beasiswa tersebut masih di dalam tahap penawaran, jadi masih ada waktu ya untuk sharing. Demi memenuhi janji menuntaskan rasa ingin tahu teman-teman yang begitu luar biasa tentang bagaimana saya bisa mendapat beasiswa ini, sebelum assignments yang ada   semakin membuat tingkat kewarasan semakin rendah, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Percayalah, saya terpaksa melakukannya. Hahaha.. Sebelum ini sudah banyak tulisan yang dibuat, tapi semua masih berupa draft, belum satu pun ter- publish ! Oh ya, sebelumnya perlu ditekankan ya, saya selalu suka mengakui bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa ini (garis bawah bold capslock) BUKAN KARENA SAYA PINTAR . Saya lebih suka mengakuinya sebagai jawaban atas kedua orang tua saya yang belum juga saya beri calon...