Langsung ke konten utama

Ketika menulis tidak memerlukan sebuah alasan...


Dulu ketika saya sedang mengetik sebuah tulisan, terkadang saya tidak punya alasan mengapa saya menulisnya. Tapi terkadang pula, ketika membuat sebuah tulisan, saya ingin banyak orang yang membaca tulisan saya. Seperti misalnya ketika menulis status di fb atau di twitter, sering saya perhatikan siapa yang ikut mengomentari, berapa jumlah like nya, atau siapa yang ngeretuit kicauan saya. Eh, bahkan tidak jarang saya juga suka memberikan jempol di status saya sendiri, hahaha.

Sampai satu ketika (bulan November tahun lalu tepatnya), saya mengikuti workshop kepenulisan yang pembicaranya adalah salah satu penulis favorit saya. Tadinya saya ingin share materinya disini. Tapi sayangnya nih ya, mungkin saat itu memori otak saya sedang tidak bersahabat, jadi semua materi workshop menguap begitu saja dari pikiran saya. Gak jadi deh sharing ilmunya. Huhuhu, maaf ya. Tapi untunglah, beberapa waktu yang lalu, ketika saya membuka fanspage pembicaranya, ternyata ada sebuah notes yang isinya kurang lebih adalah materi dari workshop itu. Begini tulisannya.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa merubah.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur.
menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menemani.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di salah-satu gedung tinggi, apartemen2, padatnya kota hongkong, di sebuah kamar sempit, lelah setelah bekerja sepanjang hari, dimarahi majikan, kangen negeri sendiri, ada seseorang yg tertawa, menangis, tiba2 merasa begitu bersemangat, memiliki inspirasi, setelah membaca tulisan kita. salah-seorang saudara kita yg jadi TKW. blog, MP, notes kita menjadi penghiburan.
kita tdk pernah tahu. boleh jadi di sana... di kolong jembatan, kota yg panas, tanah dgn onta dan korma, di balik dinding kardus. lelah setelah berminggu terkatung menjadi imigran tdk diinginkan, ada seseorang yg tertawa, menyeka pipi, buncah oleh pengharapan, setelah membaca tulisan kita. salah seorang saudara kita yg jadi buruh imigran di arab, terusir seperti gelandangan, tdk ada yg mau mengurusi. blog, MP, wordpress, notes kita menjadi teman.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi, ibu2 buronan besar itu, yg hampir dua tahun minggat, bersembunyi di negeri orang, selalu melepas kerinduan atas tanah air dari rumah kontrakannya, dengan membuka blog, MP, wordpress, notes kita. bahkan tdk sabaran kapan cerbung kita akan bersambung, hendak menyapa takut ketahuan lokasinya.

kita tdk pernah tahu. boleh jadi, di sebuah kamar berdinding putih, ranjang empuk, terbaring sakit seorang anak perempuan. berhari2, sendirian, rindu dgn keluarganya yg tdk bisa membesuk, rindu kembali sehat. dan hanya blog, MP, wordpress, notes kita yang menjadi teman. memberikan semangat. membuat tertawa.

menulislah, dgn keyakinan bahwa itu bisa merubah, menghibur dan menemani. jangan pedulikan jumlah komen, jumlah like, jumlah pengunjung. menulislah! karena dunia ini akan jauh lbh baik jika semua orang pintar menulis--bukan pintar bicara.

menulislah! *nah, jika kalian sdh mencapai level itu, selamat datang di dunia menulis sesungguhnya.
Ah, ternyata menulis itu memang memerlukan sebuah alasan, tapi tentu alasan yang benar. Dan saya akhirnya menemukan alasan yang benar itu, saya menulis karena saya suka :)

(Notesnya dikutip dari sini, gambarnya nyuplik dari sini)

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015