Langsung ke konten utama

Memantaskan diri?

Hemm, jadi inget beberapa waktu yang lalu, duluuuuu (udah males nyari kapan tepatnya, habis fp ny bukan timeline, jadi susah nyarinya, hehe), pak Mario Teguh pernah bikin status di fanspage nya yang intinya itu tadi, kita harus berusaha untuk bagaimana menjadi pantas untuk mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan.

Jadi inget juga, satu waktu, tetangga kamar di kos saya ada yang pernah bilang gini waktu saya sedang menonton acara nya pak Mario yang terkenal itu,  hidup itu tidak semudah seperti apa yang pak Mario katakan. Pertama kali dengar kelakaran seperti itu, saya cuma bisa bengong, sepersekian detik kemudian tertawa. Hahahaha. Iya sih, kayanya hidup seperti yang Pak Mario bilang itu gampaaaaaang banget. But in reallity, it's hard enough to be real. Hey, di underlined bagian yang ini, hard enough lho ya, bukan very hard. Soalnya kalo hard enough itu kan artinya cukup berat, tapi bukan sesuatu yang mustahil kita bisa saja melewatinya. Lain cerita sama very hard, kesan ketika kita mendengarnya saja di pikiran kita itu langsung sesuatu yang kayanya imposibel banget terwujud.

Haaah, masalahnya yang jadi pikiran saya, ada g sih parameter pantas dan tidak pantasnya itu? Kan, kan, kan menurut saya sih, parameternya itu relatif. Kadang, ketika hati ini sedang dalam kondisi keimanan yang tinggi, setelah semua apa yang sudah diusahakan ternyata tidak memberikan hasil yang setimpal, maka bisa saja kita legowo dengan mengatakan, hemm, barangkali saya memang belum pantas mendapatkannya. tapi, gimana kalo sedang dalam kondisi sebaliknya??? yang ada cuma mara (saya tidak suka menuliskan dengan lengkap kata ini, hehe), mara, dan mara... Rasanya dunia kejam, tidak menghargai usaha kita, sebal. Bahkan mungkin tak jarang, ada perasaan sesak di dada (wah, bagian yang ini jelas 100% curcol, hehe)

Ah, tulisan ini memang tidak ada endingny kok, konklusinya bagaimana, saya juga tidak tau, hehe. Saya kan ceritanya juga bikin pernyataan yang juga jadi pertanyaan. Eh, saya jadi ingin menulis salah satu quotes yang tidak sengaja saya baca dari film yang di putar di ruang tunggu tempat saya kemarin bawa ciyo (mio putih saya, lain kali saya ceritakan deh) berobat, judul filmnya apa, quotes-nya dari siapa, dengan sangat menyesal saya katakan saya tidak tahu, karena saya tidak memperhatikan (kalo ada yang pernah nonton film ini, kasih tau saya ya). Yang jelas quotesnya krg lebih sprt ini;
Ada banyak air mata yang jatuh untuk doa-doa yang tidak terjawab, tapi lebih banyak lagi air mata untuk doa-doa yang terjawab.
Saya cukup bebal sepertinya, sepersekian detik, saya tidak faham dengan quotes ini. Maklumlah, saya agak agak, lemot engga, tp mikir cepet juga agak agak, susah d ajak kompromi nih otaknya, mwahahahaha. Tapi akhirnya saya mengerti kok, hanya, cukup saya saja yang mengerti. Sila kalian cerna sendiri quotes tersebut. Saya harap kerja otak kalian lebih cepat menangkap maksud qoutes tersebut. Hag hag hag...

Komentar

Other Story

Sedikit Bocoran untuk para "Scholarships hunter of Pusbindiklatren Bappenas"

Yak , sepertinya tulisan pertama yang akan berhasil publish semenjak blog ini resmi berganti nama menjadi "diary dudul" adalah tulisan tentang bocoran untuk para pemburu beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Kebetulan saat ini beasiswa tersebut masih di dalam tahap penawaran, jadi masih ada waktu ya untuk sharing. Demi memenuhi janji menuntaskan rasa ingin tahu teman-teman yang begitu luar biasa tentang bagaimana saya bisa mendapat beasiswa ini, sebelum assignments yang ada   semakin membuat tingkat kewarasan semakin rendah, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Percayalah, saya terpaksa melakukannya. Hahaha.. Sebelum ini sudah banyak tulisan yang dibuat, tapi semua masih berupa draft, belum satu pun ter- publish ! Oh ya, sebelumnya perlu ditekankan ya, saya selalu suka mengakui bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa ini (garis bawah bold capslock) BUKAN KARENA SAYA PINTAR . Saya lebih suka mengakuinya sebagai jawaban atas kedua orang tua saya yang belum juga saya beri calon...