Tulisan ini sebenarnya adalah (hampir) keseluruhan salah satu chapter dalam novel(?) Yang Galau Yang Meracau karya Fahd Djibran dengan judul yang sama. Novel? aduh, kayanya buku ini bukan novel deh, tapi tulisan fiksi yang dipersembahkan untuk teman-teman yang galau dan ingin berbicara pada diri sendiri--secara lebih bebas dan lebih jujur. (seperti yang tertera dalam halaman pembuka buku ini.)
![]() |
| http://fahd-isme.blogspot.com/ |
Oke, kita bahas secara singkat padat dan jelas saja. Buku ini terdiri atas 3 bagian Medan Galau, Medan Racau, yaitu tentang Setan, Cinta, dan Tuhan. Karena saya tidak sedang menulis resensi jadi ya gak perlu lah saya menceritakan ringkasan buku ini. Hehe. Gak seru kalo saya kasih tau, mending kalian baca sendiri deh. Disini saya hanya ingin membagikan tulisan di salah satu medan galau Setan, yaitu tulisan yang berjudul Perempuan Yang Berdoa. Intinya tulisan ini tentang bagaimana sebaiknya (bukan seharusnya) berdoa yang baik. Sejak pertama kali baca tulisan ini gratisan di toko buku langganan saya (Togamas Affandi, seperti punya perpustakaan pribadi di toko buku ini, hampir semua buku bebas di baca, hehe), saya langsung tertarik dengan tulisan ini. Bahkan, sebelum saya membeli bukunya, saya rela memfoto tiap halaman dari tulisan bagian ini, untuk kemudian saya tuliskan kembali dan saya share di facebook. Entah kenapa, saya ingin membagi lagi disini, sebanyak-banyaknya. Setidaknya, membaca tulisan ini mampu mengubah pola pikir yang membacanya.
Ohya, buku ini recomended juga untuk dimiliki, di hadiahkan, ato paling gak di pinjamkan. Harganya juga gak mahal kok, cuma 36k saja (sebelum diskon, hehe. kalo mau diskon plus dapet tandatangan penulisnya, bisa liat caranya di blog penulisnya).
Ini adalah kalimat yang paling two thumbs up, banyak dari kita yang mungkin sudah tau, tapi gak mampu memahaminya.
Doa yang baik tak pernah berpusat pada kepentingan dirimu sendiri. Doa yang baik selalu tersebar bagi kepentingan orang-orang di sekeliling dirimu, orang lain, seluruh semesta. Berdoalah untuk kebahagiaan dan kebaikan orang lain, maka semseta akan bekerja dengan sendirinya untuk kebaikan dan kebahagiaanmu.
Oke, selamat menikmati setiap kata. Kalo kalian tidak mendapat pemahaman lebih setelah membacanya, merugilah kalian, mwahahahaha...
Tuhan, aku tahu kecantikan bukanlah tentang apa yang orang-orang lihat dari diriku, tetapi tentang kebaikan yang mereka rasakan dari sikap-hidupku, maka buatlah mereka selalu merasa bahagia atas kehadiranku dan merindukan saat-saat kepergianku. Getar rasa dalam dada, getar cinta dalam kata, maka biarlah hanya cinta yang terucap dari bibirku. Lalu bila mereka bahagia mendengar kisah-kisahku, dan bila kisah itu melapangkan hidup mereka dan meringankan bebannya, sesungguhnya aku hanya peremuan biasa yang ingin berbagi kebaikan.
Tuhan, aku tak ingin meminta agar Kau menambahkan rejeki kepadaku karena aku ingin membeli sejumlah barang-barang mewah untuk mempercantik diriku. Sungguh. Tetapi, jika kau tak keberatan, percikkanlah cahaya-Mu agar kebaikan selalu terpancar dari diriku untuk membahagaikan orang-orang disekelilingku. Sisanya, bila mereka merasa bahagia atas kehadiranku dalam hidup mereka, lalu mereka ingin memberiku sejumlah hadiah, aku pikir Kau tak akan begitu keberatan untuk mengabulkannya, kan?
Kaulah kecintaanku, Tuhanku, sumber kebahagiaan hidupku, lalu mengapa aku harus mendatangi-Mu dengan perasaan yang sedih? Sungguh, kini aku mengherani diriku sendiri mengapa selama ini aku justru mendatangi-Mu di saat-saat sedih dalam hidupku? Maka, terimalah doaku, Tuhan. Betapa aku mencintai-Mu dalam kebahagiaan yang tak sanggup ditampung gerakan apapun dalam tarianku! Terimalah keseluruhan diriku, inilah aku yang bahagia menjadi bagian maha kecil dari keseluruhan diri-Mu!
Tuhan, aku bukanlah perempuan yang baik, tapi bila ada satu-dua kebaikan yang pernah aku kerjakan, dan jika itu memang pantas diberi pahala, ambillah pahalaku! Jika boleh aku ingin menukarnya dengan kebahagiaan lain untuk kedua orang tuaku, keluargaku, dan orang-orang yang selama ini menyayangi maupun membenciku. Sayangilah mereka, bahagiakanlah mereka. Tak perlu lagi Kau memberiku apapun dan aku memang tak ingin meminta apapun untuk hidupku sendiri, cukuplah bagiku mencintai-Mu tanpa keinginan-keinginan yang merantai ketulusanku dalam mencintai-Mu. Sisanya, bila Kau memang memaksaku dalam ruang-ruang permohonan yang ingin Kau kabulkan; bahagiakanlah orang tua dan keluargaku, orang-orang yang menyayangi dan membenciku.
Tuhan, aku mencintai ibuku, maka bila aku memang boleh menyayangi dan membahagiakannya, berilah aku kemampuan untuk menyayangi dan membahagiakannya. Bila kecukupan harta bisa membantuku membahagiakannya, sesuangguhnya bukan harta yang kuminta. Tetapi bila cara itu memang bekerja, apa boleh buat, kenapa tidak jika aku memang harus menjadi orang yang kaya? Sungguh sebenarnya bukan kekayaan yang kuinginkan, tetapi bila itu bisa menjadi sebab terwujudnya sesuatu yang kuharapkan, dan Kau mengizinkannya, aku sesungguhnya hanyalah perempuan biasa yang tak akan sanggup menolaknya.
Tuhan, aku menyayangi ayahku, maka bila aku boleh membalas kebaikan hatinya yang telah menumbuhkan hidupku sampai ketitik ini, izinkanlah aku melakukannya. Bila prestasi-prestasi, ketinggian pangkat dan derajat, posisi tawarku di hadapan masyarakat, dan apapun saja yang membanggakannya bisa menjadi perantara bagiku untuk membahagiakannya, sesungguhnya aku tak pernah meminta gemerlap dunia. Tetapi bila Kau memperbolehkanku membalas kebaikan ayahku, dan bila cara itu memang bekerja untuk mereaksikan senyawa kebahagiaan di hatinya, maka apa boleh buat, Tuhan, aku tak akan macam-macam kepada-Mu dengan lancang menolaknya.
Tuhan, aku menyayangi adik-adikku, kakak-kakakku, keluargaku. Aku juga tahu betapa mereka mencintai dan menyayangiku. Sia-sia hidupku jika tak pernah sanggup membahagiakan mereka, Tuhanku. Maka tumbuhkanlah dari diriku sayap-sayap kebaikan yang bisa membantu mereka menerbangkan doa-doa dan harapannya kepada-Mu. Kabulkanlah doa-doa mereka. Ini bukan tentang menjadi seseorang, ini soal menjadi bagian dari rencana indah-Mu tentang hidup yang menghidupi dan hidup yang menghidupkan!
Tuhan, aku tak ingin menjadi seseorang yang sia-sia menjalani hidup di dunia. Maka bila keluasan akal dan kemanfaatan tindakanku bisa menjadi sumbangan kecil bagi semesta, sesungguhnya aku hanya meminta bantuan-Mu agar aku mampu menjadi wakil-Mu di dunia. Ini bukan tentang diriku, ini tentang tugas berat dari-Mu untuk menjadi kasih-bagi-semesta.
Tuhan, itulah doaku bagi semesta. Tentang diriku, cukupkanlah aku mencintai-Mu dan Kau mencintaiku. Bila berkenan dan kau punya waktu, biarlah kelak kita bertemu. Aku sangat ingin menuntaskan rasa cinta dan rinduku pada-Mu dalam pertemuan itu. Bila ternyata Kau juga ingin, maka akulah perempuan yang paling bahagia itu!”Aamiin.

Komentar
Posting Komentar