Langsung ke konten utama

Kalau saja..

Sekali lagi, kanak kanak itu sedikit kesal dengan teman-temannya yang lagi-lagi dengan bebalnya bertanya apakah ia diundang untuk datang di acara ulang tahun gadis kecil yang tinggal tak jauh dari rumahnya itu. Kali pertama ia ditanya demikian, ia hanya menjawab singkat, Tidak. Pertanyaan berikutnya hanya ia jawab dengan gelengan. Selanjutnya ia hanya merengut dengan tatapan mata yang datar. Tidak! sekali lagi, dengan nada penuh ketegasan. Tapi, setelah sekian kalinya harus menjawab pertanyaan yang sama, ia hanya bisa berlari pulang ke rumahnya. Menangis, mengadu pada ibunya mengapa ia tidak diundang. Ibunya dengan susah payah memberi pengertian. Tapi kanak-kanak itu tidak mau tahu. Yang ia tahu, ia tidak seperti teman-teman lainnya yang dengan hebohnya berdandan macam-macam membawa beragam bungkusan kado (yang padahal pun isinya tidak seberapa nilainya) ke rumah berpagar biru itu.


Sayang, kanak-kanak itu terlalu polos, tidak tahu bagaimana caranya, (belum tahu barangkali lebih tepatnya). Tahu bagaimana cara untuk menutup rasa sebalnya menjawab pertanyaan yang sama itu. Kalau saja, (memang hanya kalau), kalau saja ia tahu kalimat yang sangat menyebalkan untuk diucap tapi juga membuat kita tidak  lagi  terbebani dengan pertanyaan yang sama. Ya, kalau saja ia tahu bahasa ini; "Iyah, aku enggak diundang, kenapa? Masalah buat loe? Diundang apa enggak, pun gak ada pengaruh sama hidup aku". Benar, kalimat paling menyebalkan. Tapi ketika mengucapkannya, tidak ada beban sedikitpun. Hahahaha, sayangnya kanak-kanak itu terlalu polos. Belum tau apa makna kalimat itu. Belum tahu kapan harus menggunakannya...


*Bandung, 15 April 2012

gambar diambil dari sini :)

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015