Sekali lagi, kanak kanak itu sedikit kesal dengan teman-temannya yang lagi-lagi dengan bebalnya bertanya apakah ia diundang untuk datang di acara ulang tahun gadis kecil yang tinggal tak jauh dari rumahnya itu. Kali pertama ia ditanya demikian, ia hanya menjawab singkat, Tidak. Pertanyaan berikutnya hanya ia jawab dengan gelengan. Selanjutnya ia hanya merengut dengan tatapan mata yang datar. Tidak! sekali lagi, dengan nada penuh ketegasan. Tapi, setelah sekian kalinya harus menjawab pertanyaan yang sama, ia hanya bisa berlari pulang ke rumahnya. Menangis, mengadu pada ibunya mengapa ia tidak diundang. Ibunya dengan susah payah memberi pengertian. Tapi kanak-kanak itu tidak mau tahu. Yang ia tahu, ia tidak seperti teman-teman lainnya yang dengan hebohnya berdandan macam-macam membawa beragam bungkusan kado (yang padahal pun isinya tidak seberapa nilainya) ke rumah berpagar biru itu.
Sayang, kanak-kanak itu terlalu polos, tidak tahu bagaimana caranya, (belum tahu barangkali lebih tepatnya). Tahu bagaimana cara untuk menutup rasa sebalnya menjawab pertanyaan yang sama itu. Kalau saja, (memang hanya kalau), kalau saja ia tahu kalimat yang sangat menyebalkan untuk diucap tapi juga membuat kita tidak
lagi terbebani dengan pertanyaan yang sama. Ya, kalau saja ia tahu bahasa ini; "Iyah, aku enggak diundang, kenapa? Masalah buat loe? Diundang apa enggak, pun gak ada pengaruh sama hidup aku". Benar, kalimat paling menyebalkan. Tapi ketika mengucapkannya, tidak ada beban sedikitpun. Hahahaha, sayangnya kanak-kanak itu terlalu polos. Belum tau apa makna kalimat itu. Belum tahu kapan harus menggunakannya...

Komentar
Posting Komentar