Langsung ke konten utama

Ketika Sang Pemilik Hati bekerja...

Lepas senja gadis hitam manis itu datang berkunjung ke rumah. Entah sengaja ingin berkunjung atau tidak sengaja lewat kemudian mendapat bisikan untuk mampir. Padanan baju yang ia kenakan sungguh manis, flory long-dress, blazer hitam serta jilbab merah, ditambah sedikit pulasan natural di wajahnya semakin membuatnya terlihat cantik. Ah, dari rona wajahnya yang bersemu merah (tapi tidak semerah jilbab yang ia kenakan), jelas ia sedang berbahagia.


Dengan sedikit godaan, maulah ia bercerita tentang lelaki pujaan hatinya. Seorang atlet sepakbola, lulusan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan dari universitas ternama di kotanya. Belum lama masa perkenalan mereka yang terjadi lewat orang ke orang. Awal mula berjumpa, sore hari di sebuah kafe, secara dzahir gadis itu tidak menyukainya, tidak sedikitpun (bahkan ia menyumpahi untuk jangan sampai jatuh hati padanya). Lelaki itu sangat senang bercerita, apapun ia ceritakan, tentang dirinya, keluarganya, temannya, kesibukannya, segalanya. Si gadis hanya diam mendengarkan, sesekali mengangguk dan tersenyum memberikan apresiasi sambil menyantap hidangan didepannya. Baginya sangatlah menyebalkan mendengarkan orang yang belum lama dikenalnya dengan frontalnya membuka diri.

Menit demi menit dirasanya sangat lama, hingga akhirnya waktu maghrib pun tiba. Lelaki itu merilik jam di pergelangan tangannya, kemudian mengagetkan gadis itu; "Sudah mau adzan maghrib, shalat dulu yuk". Dengan sedikit terperangah gadis itu mengalihkan matanya yang sedari tadi sibuk dengan adukan tangan di gelas minumannya. "Oh, yasudah kita pulang saja" sahut gadis itu. Tetapi lelaki itu menggeleng, "Kalo gitu, gimana kalo kita shalat disini saja?". Agak malas-malasan gadis itu mengikuti langkah lelaki itu ke mushola kafe. Tapi hatinya sedikit berdesir, 'Ah lelaki ini, apakah ia hanya sedang menarik simpatinya semata'. Lepas mengambil wudhu, lelaki itu bertanya apakah gadis itu mau menjadi makmumnya atau tidak. Gadis itu semakin terhenyak, mengangguk dengan sedikit senyuman.
Bismillahirrahmaanirraahiim...Alhamdulillahirobbil 'aalamiin...Arrahmaanirraahiim...
Allahuakbar, suara lelaki itu. Lantunan ayat suci dari mulutnya. Gadis itu jatuh hati padanya. Lelaki itu, lelaki yang bahkan 5 menit yang lalu masih tidak ia sukai...
Maha Besar Allah, yang Maha membolak-balikkan hati manusia...

*Bandung, 21 April 2012

gambar dari sini :)

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015