Langsung ke konten utama

Belajar tentang Kehilangan

Lagi, tulisan kedua saya di bulan ini sekedar repost. Entahlah, saya sibuk dengan apa, sampai-sampai tidak sempat menulis. Hmm, mungkin lebih tepatnya kalo saya pake diksi tidak menyempatkan menulis ya? Itu jelas lebih mengena. Ide untuk menulis itu bisa datang kapan saja, sayangnya ketika sudah didepan laptop, semua ide berebut ingin dijadikan sebuah tulisan. Byar, akhirnya tidak ada satupun yang berwujud. Parah memang. Kali esok mungkin saya akan bercerita atau membuat narasi tentang salah satu sahabat terbaik saya. Sahabat yang dari kesederhanaannya, kerja kerasnya, kerendahhatiannya, saya belajar, belajar tentang segalanya.

Ah, sekarang, bolehlah saya membagikan tulisan dari salah seorang penulis favorit saya. Eh, coba saya ingat-ingat, sepertinya saya sering sekali ya membagikan tulisan? (Haha, di bold lho ya!) Saya gak punya alasan kenapa saya seperti itu, kalau ditanya alasannya apa pun, saya mungkin hanya akan memberikan alasan "Just because i love to do it". Ya, hanya karena saya suka. Enough, tidak lebih tidak kurang. Saya selalu suka membagikan setiap tulisan yang bagi saya membelajari (ada ga ya diksi ini? agak panjang kalo saya harus menuliskannya dengan menggunakan diksi 'memberikan pelajaran'). Saya ingin ada lebih banyak lagi orang yang mendapatkan pelajaran, pemahaman dari sebuah tulisan. Barangkali untuk satu-dua, tulisan ini tidak bermakna apa-apa. Tapi mungkin, tidak bagi yang lainnya...

Anyway, kalau sedang membicarakan tentang kehilangan, ada lagu yang sangat pas. Memiliki Kehilangan dari Letto, band favorit saya juga lho ini, hehe :)
So, membaca dengan backsound lagu ini sepertinya bisa mendapatkan 'feel' yang lebih dalam lagi. Semoga menyenangkan!

Kehilangan Atas Kehilangan...
Semua orang, sebahagia apapun hidupnya, manusiawi jika pernah sekali, dua kali, bahkan lebih mengalami kehilangan yg menyakitkan...

Ada yg kehilangan harta kesayangan, seperti dompet, HP, kamera, motor, mobil, kucing, bunga... Ada yg kehilangan dokumen, macam KTP, passport, surat nikah, surat cerai... Ada yg kehilangan anggota keluarga, seperti ayah, ibu, suami, istri, adik, kakak, teman... Ada yg kehilangan sesuatu yg lbh susah dijelaskan, seperti cinta, ketenangan, kenyamanan, harga diri, reputasi...

Apapun bentuknya, kehilangan itu selalu kongkret... mulai dr secara fisik memang tidak ada lagi.. menatap ruangan kosong tempat benda itu dulu berada.. menatap kamar kosong tempat seseorang itu dulu sering bersenda-gurau... hingga secara jiwa... hati yg nelangsa, perasaan yg kosong, posisi yg tidak lg dihargai... sehingga menimbulkan rindu, marah, sedih, menangis, dsbgnya....

Lantas, sepanjang hidup kalian selama ini, kawan... kehilangan apakah yg membuat kalian merasa begitu sedih? Mari tepekur sejenak, mengingat2... lantas sebutkan dlm hati, kehilangan apa yg paliiinggg membuat kalian sedih? Jika tidak ada, maka mari kita rubah pertanyaannya: kehilangan apakah yg paliiingg kalian takutkan di masa depan??

Karena sy punya satu... di antara kehilangan HP, kehilangan kamera, dokumen, cinta, nama baik, ayah, teman terbaik, dan sebagainya... sy ternyata memiliki sebuah kehilangan yg amat menyesakkan, belum terjadi (atau jangan2 sudah terjadi); yg membuat sy takut sekaliiii... bukan, tentu saja bukan kehilangan yg lazim, yang biasa... sy sungguh takut kehilangan "kehilangan"... kehilangan perasaan "kehilangan" itu sendiri...

Tidak mengerti? Sama sy juga awalnya tidak mengerti kalimat aneh (meski bijak ini); membuat sy mikirr lamaa... padahal sejatinya, banyaaak sekali orang yg tidak tahu, tidak sadar, kalau dia sebenarnya telah: kehilangan perasaan "kehilangan" tersebut... tidak peduli; merasa semua baik2 saja...

Kita kehilangan momen2 indah bersama keluarga; kasih-sayang kepada orang-tua; kedekatan... sibuk dgn hidup, rutinitas, dan teman2 baru yg boleh jd itu tidak hakiki... kehilangan saat2 menyenangkan saat bicara dgn ayah, ibu, adik, kakak... bercengkerama... kita sesungguh kehilangan, tp tidak tahu kalau kita telah kehilangan perasaan "kehilangan" tersebut...

Kita kehilangan menikmati setiap detik nikmat hidup yg diberikan... setiap tarikan nafas... berdirilah di busway, atau bus2... ketika pagi tiba, tataplah deretan gedung2 tinggi.... apakah akan kita biarkan rutinitas menikam waktu, membiarkan kita tdk peduli ternyata betapa indahnya siluet dinding2 beton berlapis kaca... menatap aktivitas pengamen.. tukang asongan... kondektur yg membunyikan kerenceng uang logam di tangannya... tersenyum kepada orang di sebelah kita... kita tahu persis semua itu luar-biasa.. tp kita membiarkannya hilang.. kita kehilangan perasaan "kehilangan"...

Dan di atas segalanya... ya Allah.. jangan sampai hamba tidak menyadari kalau hamba telah kehilangan perasaan kehilangan atas kasih-sayangMu... ber-barel2 nikmat dariMu... kesempatan untuk membaca firman2Mu... menunaikan ibadah vertikal kepadaMu.. menyadari sejatinya kehidupan ini dgn merasakan segenap kasih-sayangMu...

Ya Allah, sejatinya kami kehilangan itu semua... tp yg lebih menyedihkan lagi.. kami sungguh tidak merasa kalau kami telah kehilangan perasaan "kehilangan" hal2 tersebut... dan celakanya, kami kadang justru bangga "kehilangan" pemahaman, prinsip hidup, kerudung yg selama ini sudah kami pakai/laksanakan hanya demi urusan dunia.. 

Bandung, senja, mendung, sepi, sendiri.

Link Sumber Notes

Komentar

  1. inspiratif tulisannya,,, semangat terus ya.

    Kunjungan blogwalking sore kawan..
    Sukses selalu..
    Tak lupa, mengundang juga rekan blogger
    Kumpul di Lounge Event Blogger "Tempat Makan Favorit"

    Salam Bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kunjungan nya. senang bs menginspirasi :)

      Hapus

Posting Komentar

Other Story

Sedikit Bocoran untuk para "Scholarships hunter of Pusbindiklatren Bappenas"

Yak , sepertinya tulisan pertama yang akan berhasil publish semenjak blog ini resmi berganti nama menjadi "diary dudul" adalah tulisan tentang bocoran untuk para pemburu beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Kebetulan saat ini beasiswa tersebut masih di dalam tahap penawaran, jadi masih ada waktu ya untuk sharing. Demi memenuhi janji menuntaskan rasa ingin tahu teman-teman yang begitu luar biasa tentang bagaimana saya bisa mendapat beasiswa ini, sebelum assignments yang ada   semakin membuat tingkat kewarasan semakin rendah, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Percayalah, saya terpaksa melakukannya. Hahaha.. Sebelum ini sudah banyak tulisan yang dibuat, tapi semua masih berupa draft, belum satu pun ter- publish ! Oh ya, sebelumnya perlu ditekankan ya, saya selalu suka mengakui bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa ini (garis bawah bold capslock) BUKAN KARENA SAYA PINTAR . Saya lebih suka mengakuinya sebagai jawaban atas kedua orang tua saya yang belum juga saya beri calon...