Agaknya sudah sedari kecil kita diberi pemahaman bahwa ada persamaan mendasar antara hewan dan manusia, yaitu keduanya memiliki hawa nafsu. Bedanya, manusia memiliki otak dan hati yang bisa digunakan untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut, tapi hewan tidak. Thats why, wajarlah jika kita seringkali mengasosiasikan tingkah laku seseorang yang diluar nalar atau kewajaran manusia pada umumnya sebagai tingkah laku hewan. Tapi saya tidak sedang ingin menulis tentang hal itu, rasanya saya tidak cukup ilmu juga untuk membahasnya. Hehehe. . .
Point penting bahasan saya kali ini adalah tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu dengan menggunakan otak dan hati yang ada. Bukan bagaimana caranya, namun bagaimana menyikapinya. Kita berbicara dalam konteks yang sederhana saja, misalnya si A sedang teramat ingin mendapatkan sesuatu, namun apa yang ia inginkan justru didapatkan oleh si B. Ketika mengetahui fakta tersebut, walaupun hanya sepersekian detik pastilah si A merasa iri hati atas apa yang didapatkan si B. Iri hati adalah bagian dari nafsu, yang sayangnya memiliki konotasi negatif. Sejatinya, hampir semua manusia memiliki sifat iri hati, hanya manusia-manusia pilihan Tuhan saja yang tidak pernah merasa iri hati, manusia-manusia yang ditakdirkan memiliki hati yang bersih.
Point penting bahasan saya kali ini adalah tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu dengan menggunakan otak dan hati yang ada. Bukan bagaimana caranya, namun bagaimana menyikapinya. Kita berbicara dalam konteks yang sederhana saja, misalnya si A sedang teramat ingin mendapatkan sesuatu, namun apa yang ia inginkan justru didapatkan oleh si B. Ketika mengetahui fakta tersebut, walaupun hanya sepersekian detik pastilah si A merasa iri hati atas apa yang didapatkan si B. Iri hati adalah bagian dari nafsu, yang sayangnya memiliki konotasi negatif. Sejatinya, hampir semua manusia memiliki sifat iri hati, hanya manusia-manusia pilihan Tuhan saja yang tidak pernah merasa iri hati, manusia-manusia yang ditakdirkan memiliki hati yang bersih.
Nah, yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya adalah bagaimana menyikapi iri hati-nya tersebut. Sebagian berusaha mengendalikannya dengan ber-positif thingking bahwa mungkin memang belum saatnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan tersebut, dan ia terus berharap. Sebagian lain membuat iri hati nya menjadi seperti api dalam sekam. Pelan tapi pasti, lambat laun semakin besar dan semakin besar lagi hingga tak terkendalikan. Nah, disinilah otak dan hati berperan. Kita tidak berbicara tentang mereka yang tidak bisa mengendalikannya. Karena bahasan tentang mereka tidaklah menarik. Bagi saya yang menarik justru mereka yang berusaha mengendalikannya. Saat ini, dunia maya, jejaring sosial seperti facebook dan twitter menjadi media yang paling banyak dipilih untuk mengendalikan sifat iri hati mereka-mereka, terutama kaum remaja ababil. Lihatlah, ada berapa banyak status yang muncul setiap harinya yang secara tidak sadar justru menunjukkan iri hati mereka, tentu saja dengan beragam bahasa. Bersyukurlah bagi mereka yang bisa memvisualisasikan dengan diksi yang baik, sehingga pencitraan untuk mereka pun baik. Sayangnya, banyak yang belum bisa menggunakan diksi yang baik. Miris.
Ah, saya sendiri pun tidak menampik kenyataan bahwa saya juga acapkali iri dengan apa yang adik, saudara, teman, tetangga atau kerabat lainnya. Hanya saja, saya punya cara tersendiri untuk mengendalikannya. Ya, karena saya suka membaca, setiap kali saya merasa resah dengan perasaan negatif yang ada, saya selalu mengambil buku, kalau saya sedang dalam keadaan suci biasanya saya langsung mengambil Al Quran, tapi kalau tidak (dan kalau sedang malas harus berwudhu terlebih dahulu, hehe), saya biasanya sembarangan mengambil apa saja yang ada di rak buku. Berusaha mengalihkan perhatian untuk tidak terus memikirkan perasaan iri hati saya dengan membaca. See, hasilnya cukup positif. Bagi saya setiap manusia itu spesial, mereka punya cara tersendiri, selama mereka masih memiliki otak dan hati, setiap pribadi mereka tahu apa dan bagaimana mengendalikan hawa nafsu mereka :)
Bandung, panas terik, beruntungnya otak saya masih bisa berfikir, hehe.
Bandung, panas terik, beruntungnya otak saya masih bisa berfikir, hehe.
Komentar
Posting Komentar