Langsung ke konten utama

Berbesar Hati Memaafkan

Suatu siang, saya yang belum sampai 5 menit terlelap tidur, dikagetkan dengan ringtone handphone -- yang secara tidak sadar tergeletak begitu saja tepat di sebelah kepala saya.

"Halo, selamat siang, dengan saudara Maslahatun Nashiha?"

Demi mendengar nama saya di panggil dengan begitu lengkapnya, saya langsung terjaga, terduduk untuk kemudian berusaha mengendalikan suara saya agar tidak terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.

"Maaf Mbak, kami dari jasa pengiriman barang xxx, kami ingin menginformasikan bahwa... bla bla bla bla..."

Kalimat selanjutnya tidak saya dengarkan dengan jelas. Rasanya ingin sekali merutuki orang di seberang telfon sana. Sia-sia kendali saya beberapa menit barusan, bukan pembicaraan penting. Tentu saja, penting bagi saya adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan benefit. Apapun itu, entah dalam bentuk materi, pemahaman atau segala hal yang bersifat informatif. Hehe...


Setelah mengumpulkan separuh nyawa yang sudah entah pergi kemana, akhirnya saya menyimak juga apa yang menjadi inti pembicaraan orang di seberang sana. Saya sudah tahu, siapa yang menggunakan jasa pengiriman tersebut, dan apa isi kirimannya, jadi masih dengan setengah-tidak-menyimak saya mendengarkan penjelasannya. Sayangnya, semakin disimak, pembicaraan ini justru semakin membuat produksi hormon serotonin saya menurun drastis. Bagaimana tidak, orang di seberang sana mengkonfirmasikan bahwa kiriman terlambat disampaikan karena alamat saya tidak jelas. Tolong di bold ya pake tinta super tebal, alamat saya tidak jelas.

Dengan intonasi suara yang sekuat tenaga saya kendalikan agar tidak terdengar emosi, saya mempertanyakan kredibilitas jasa pengiriman tersebut. Tentu saja ini bukan kali pertama ada kiriman yang tertuju untuk saya, tentu saja dengan alamat yang sama dengan yang tertera pada kiriman kali ini. Selama ini tidak pernah ada masalah. Lagipula, yang membuat saya semakin menghela nafas panjang--berusaha untuk sedikit meredakan emosi yang sudah seperti bom waktu, adalah ketika saya justru mendapat jawaban bahwa kurir yang mengantarkan kiriman 'kemungkinan' adalah orang baru, sehingga belum mengenali dengan jelas alamat yang tertulis.

Ada 2 poin yang mengganggu saya. Poin pertama, bukankah di jaman super-modern seperti sekarang ini rasanya sudah hampir sebagian besar (kalau saya tidak boleh bilang 'setiap') kiriman yang menggunakan jasa pengiriman selalu dimintai nomor kontak receiver maupun sender? Hal ini tentu saja dimaksudkan agar lebih memudahkan proses pengiriman jika alamat yang dimaksud tidak dikenali. Berdalih bahwa nomor kontak saya baru bisa didapatkan setelah pihak jasa pengiriman mengkonfirmasikan kepada sender tidak membuat saya puas, saya sangsi, teramat sangsi malah---Aneh. Poin kedua, ini yang membuat saya semakin sulit mengendalikan intonasi suara, kurir yang membawa kiriman saya tentu bukan orang yang tidak memiliki otak dan mulut bukan? bisa berfikir, bisa berbicara, bisa bertanya. Tentu saja kelebihan itulah yang membuatnya mampu mendapatkan pekerjaan sebagai kurir. Lagi, dengan jawaban yang sangat berbelit-belit orang di seberang sana berusaha berdalih.

Saya sudah cukup sabar untuk akhirnya mengakhiri pembicaraan dengan memberikan statement bahwa saya tidak memerlukan kiriman tersebut, saya sudah tahu apa isinya, jadi perusahaan pengiriman tidak perlu lah bersusah payah mengantarkan kiriman tersebut. Saya malas untuk melanjutkan pembicaraan, kendati orang di seberang sana berulang kali meminta maaf dan akan mengantarkan kiriman keesokan harinya.

Lepas itu, kantuk saya langsung hilang seketika. Saya sudah tidak ingin melanjutkan tidur siang saya. Gila nya, saya sudah membatin dalam hati untuk memarahi kurir yang akan datang besok harinya. (Duh Gusti, ampuni kulo, tolong hapus niat saya itu dalam buku catatan amal saya Ya Allah >.<)

Esok harinya, sengaja saya tidak pergi kemana-mana demi menunggui kurir yang katanya akan datang hari itu. Sepagian menunggu belum ada juga tanda-tanda kenampakannya. Baru lepas tengah hari, datanglah kurir yang dinanti. Sayangnya ketika saya menanyakan apakah kurir ini adalah juga kurir yang kemarin membawa kiriman saya kemarin, si kurir menjawab bukan, bahkan dengan beraninya justru bertanya mengapa. Saya tidak mau menandatangani nota penerimaan barang. Ah, akhirnya bom waktu itu meledak. Pun ketika si kurir akhirnya mempertanyakan mengapa bom itu justru mengenai dirinya, seperti kobaran api yang terpecik bensin, kepala saya rasanya mendidih, panas sekali. Baru akhirnya ketika si kurir ber-istighfar dan meminta maaf, saya luluh juga mau menandatangani nota tersebut.


Si kurir berlalu.

Saya terdiam.

Saya sudah meluapkan kekecewaan saya, ketidaknyamanan saya.

Hei, mengapa saya tidak lantas merasa puas?

Saya justru merasa tidak tenang.

Saya tidak nyaman.


Saya merasa bersalah

Hingga akhirnya pemahaman itu datang...
Sebesar apapun kesalahan seseorang pada kita, semengecewakan apapun tingkah laku mereka.
Ternyata dengan berbesar hati, memaafkan dengan ikhlas, akan jauh membuat kita lebih tenang, lebih nyaman.

*Bandung, semoga si Kurir mampu berbesar hati, ikhlas memaafkan saya. Aamiin.

Komentar

Other Story

Sedikit Bocoran untuk para "Scholarships hunter of Pusbindiklatren Bappenas"

Yak , sepertinya tulisan pertama yang akan berhasil publish semenjak blog ini resmi berganti nama menjadi "diary dudul" adalah tulisan tentang bocoran untuk para pemburu beasiswa Pusbindiklatren Bappenas. Kebetulan saat ini beasiswa tersebut masih di dalam tahap penawaran, jadi masih ada waktu ya untuk sharing. Demi memenuhi janji menuntaskan rasa ingin tahu teman-teman yang begitu luar biasa tentang bagaimana saya bisa mendapat beasiswa ini, sebelum assignments yang ada   semakin membuat tingkat kewarasan semakin rendah, maka saya memaksakan diri untuk menulis. Percayalah, saya terpaksa melakukannya. Hahaha.. Sebelum ini sudah banyak tulisan yang dibuat, tapi semua masih berupa draft, belum satu pun ter- publish ! Oh ya, sebelumnya perlu ditekankan ya, saya selalu suka mengakui bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa ini (garis bawah bold capslock) BUKAN KARENA SAYA PINTAR . Saya lebih suka mengakuinya sebagai jawaban atas kedua orang tua saya yang belum juga saya beri calon...