Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, maka saat itu pintu kebahagiaan lainnya sedang terbuka. Tetapi, sayangnya, kita sering menatap terlalu lama pintu yang telah tertutup itu. Sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah dibukakan utuk kita sebagai gantinya. -Hellen Keller-
Quotes dari Madam Hellen Keller menjadi pembuka hari saya pagi ini. Spirit message dari salah satu teman terbaik saya semasa kuliah. Ah, berteman dengan orang-orang baik memang selalu memberikan energi yang positif pada kita :)
Sedikit agak menghela nafas ketika saya membaca quotes tersebut. Rasanya seperti tertampar. Perih di pipi tidak seberapa rasanya dibanding syaraf-syaraf di kepala yang sektika menegang. Allahu Rabbi. Bagaimana tidak? Beberapa hari belakangan ini saya sedang merutuk, kesal atas kehilangan sesuatu yang saya miliki. Ya, saya merasa bahagia memiliki. Dan sepertinya saya memiliki 'perasaan memiliki' yang sungguh terlalu. Jadi, ketika Yang Maha Memiliki mengambil apa yang 'dititipkannya' pada saya, rasanya susah untuk melepaskannya. *sigh
Memang benar, jika perasaan memiliki sesuatu itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bahagia rasanya memiliki harta benda, keluarga, pun harga diri. Dan tentu saja ketika perasaan memiliki tersebut berlebihan, percayalah, siapapun juga tahu, susah untuk melepas kebahagiaan itu. Hiks, rasanya malu sekali akan rutukan saya beberapa hari kemarin. Padahal barang yang saya sesali atas kehilangannya itu tidak seberapa harganya. Bukankah Allah sudah menggantinya dengan yang lain? dengan kesempatan besar yang mungkin akan mendatangkan kebahagiaan yang jauh lebih besar, jauh lebih mendatangkan kebahagian tersendiri.
Ah, saya jadi teringat nasehat ayah saya akhir tahun lalu. Saat itu beliau kehilangan sesuatu yang saya teramat sangat mengerti bahwa untuk mendapatkannya tidaklah mudah, ayah saya berusaha keras untuk mendapatkannya.
Jika sudah seperti itu, bolehlah kita mengatakan bahwa kebahagiaan-pun hanya sekedar titipan Allah bukan??
*Bandung. Hei, saya pernah menulis tema yang sama sepertinya bulan lalu. Ah, tak apalah :)
Sedikit agak menghela nafas ketika saya membaca quotes tersebut. Rasanya seperti tertampar. Perih di pipi tidak seberapa rasanya dibanding syaraf-syaraf di kepala yang sektika menegang. Allahu Rabbi. Bagaimana tidak? Beberapa hari belakangan ini saya sedang merutuk, kesal atas kehilangan sesuatu yang saya miliki. Ya, saya merasa bahagia memiliki. Dan sepertinya saya memiliki 'perasaan memiliki' yang sungguh terlalu. Jadi, ketika Yang Maha Memiliki mengambil apa yang 'dititipkannya' pada saya, rasanya susah untuk melepaskannya. *sigh
Memang benar, jika perasaan memiliki sesuatu itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bahagia rasanya memiliki harta benda, keluarga, pun harga diri. Dan tentu saja ketika perasaan memiliki tersebut berlebihan, percayalah, siapapun juga tahu, susah untuk melepas kebahagiaan itu. Hiks, rasanya malu sekali akan rutukan saya beberapa hari kemarin. Padahal barang yang saya sesali atas kehilangannya itu tidak seberapa harganya. Bukankah Allah sudah menggantinya dengan yang lain? dengan kesempatan besar yang mungkin akan mendatangkan kebahagiaan yang jauh lebih besar, jauh lebih mendatangkan kebahagian tersendiri.
Ah, saya jadi teringat nasehat ayah saya akhir tahun lalu. Saat itu beliau kehilangan sesuatu yang saya teramat sangat mengerti bahwa untuk mendapatkannya tidaklah mudah, ayah saya berusaha keras untuk mendapatkannya.
Kita sebagai manusia tugasnya hanya mencari apa yang menjadi titipannya Allah untuk kita. Ketika sudah mendapatkannya, dijaga, dirawat. Lha kalo setelah itu diambil lagi -entah bagaimana caranya- sama yang punya, mau bagaimana lagi, kita kan hanya dititipi, ikhlas kan saja. Tidak boleh terus bersedih. Cari lagi titipannya yang lain, jangan dibuat susah. -Aby Faizin Ch-
Kebahagiaan dan rasa sedih itu terkadang tidak ada bedanya, sama-sama membuat tidak bisa tidur.-Sunset Bersama Rosie, Tere Liye-
Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara tebaik untuk memahaminya adalah dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan. -Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Tere Liye-
Jika sudah seperti itu, bolehlah kita mengatakan bahwa kebahagiaan-pun hanya sekedar titipan Allah bukan??
*Bandung. Hei, saya pernah menulis tema yang sama sepertinya bulan lalu. Ah, tak apalah :)

Komentar
Posting Komentar