Langsung ke konten utama

Sekedar Unyek-unyek :)

Kalo mikir negatif, tiap bisa akses internet dan liat dunia juga segala update teman-teman, rasanya malah minder sendiri. Kok orang-orang, masih muda, seumuran gw, udah bisa gini, udah pernah kesitu, udah dapet ini itu... lah gw? rasanya kok begini-begini aja dan disini-sini aja?
Wew, saya tidak pernah punya keberanian untuk menuliskan statement seperti ini di jejaring sosial manapun, pun tidak di blog ini. Padahal, pemikiran itu selalu muncul sesering saya berselancar ria di dunia maya. Hanya saja, pemikiran itu acapkali muncul ketika saya sedang down, entah sedang futur, atau ketika mood saya sedang tidak ada bagus-bagusnya.

Well, ketika salah seorang teman SMA saya memposting status demikian, akhirnya saya punya keberanian juga untuk menuliskannya disini. Tidak munafik, memang benar, rasanya ingin menangis, rasanya ada yang menyesakkan dada setiap kali mengetahui fakta seperti itu. Dia, sudah jadi ini, dia, sudah jadi itu. Sementara saya?

Astaghfirullah, beruntungnya saya, saya masih punya iman, masih punya Tuhan, yang membuat saya bisa kembali mengingat, kembali mempercayai bahwa takdir Tuhan itu pasti. Garis kehidupan yang dituliskannya dalam Kitab Lauhul Mahfudz tidak akan pernah keliru untuk siapa, bagaimana dan kapannya...

Maybe, saat ini, saya bukan apa-apa pun bukan siapa-siapa. Tapi, someday, saya akan, mau, dan HARUS menjadi siapa-siapa :)


*Bandung, my beloved home.

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015