Mempunyai adik yang menekuni kuliah di bidang kejiwaan sebenarnya sangat menyenangkan, tapi juga terkadang 'menyebalkan'. Karenanya saya suka sekali mencandai adek saya itu dengan kalimat seperti ini, "Ah adek ini emang (calon) psikolog yang butuh psikolog", dan sahutannya selalu saja seperti ini; "Iya, psikolog nya adek kan mbak". Hadeh, mati kutu saya dibuatnya. Susah mendebat adek saya itu.
Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dijadikan objek penelitiannya. Saya dipaksa dengan ancaman 'bukan mbak nya adek lagi' kalau tidak mau membantunya menyelesaikan tugas kuliahnya. Tugasnya kali ini membuat saya bertafakur, mempertanyakan kembali tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Namun yang sangat menyesakkan adalah fakta bahwa ternyata saya sering sekali berkoar-koar tentang pemahaman yang baik, tapi terkadang saya lupa diri, saya merasa menjadi orang yang munafik. Ah, semoga saja pemikiran itu tidak benar adanya. Here we go,,,
Bagaimana pandangan atau pendapat anda tentang kehidupan ini?
Ada banyak definisi umum tentang kehidupan yang sudah sering kita dengar, mulai dari hidup adalah perjuangan, hidup adalah pilihan, hidup adalah kompetisi dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, hidup adalah tentang kejujuran, hidup juga adalah kesederhanaan, hidup pun adalah kebijaksanaan, hidup adalah kerja keras, hidup adalah pelajaran, hidup juga tentang kesabaran, hidup adalah interaksi antara manusia dan Tuhannya, juga antara manusia satu dengan manusia lainnya, dan diksi-diksi lain yang tidak mungkin dituliskan satu persatu. Maka bagi saya, hidup adalah semua diksi yang meliputi kehidupan itu sendiri.
Diatas itu semua, hidup adalah sinkronisasi antara hati dan pikiran. Tentu saja diksi-diksi tersebut dikendalikan oleh hati dan pikiran kita.
Anda sudah merasa dunia ini menyediakan segalanya yang anda butuhkan? berikan contohnya !
Terinspirasi dari salah satu peribahasa Swedia ; “Siapapun yang ingin bernyanyi, selalu menemukan lagu untuk dinyanyikan.”. Ya, apapun yang kita butuhkan segalanya sudah tersedia. Namun kemudian yang menjadi pertanyaan bukan ‘dimana kita dapat menemukannya’, tapi lebih pada pertanyaan ‘apakah kita mau mencarinya’. Setelah ada kemauan itu, muncul kembali pertanyaan ‘apakah kita mau bersabar untuk mendapatkannya’. Selain itu, kita pun seringkali terjebak pada definisi antara kebutuhan dan keinginan. Padahal apa yang kita inginkan belum tentu adalah apa yang kita butuhkan. Sehingga kadang kita merasa apa yang kita butuhkan ini acapkali tak bisa terpenuhi.
Apa ada tuntutan lebih yang anda harapkan atau berikan kepada orang-orang di sekitar anda?
Tentu saja, bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa sejatinya kita sebagai manusia selalu ingin merasa dihargai. ‘Di-manusia-kan’ dan ‘me-manusia-kan’ ini yang menjadi harapan bagi setiap orang, karena ketika setiap orang merasa dihargai, maka ia akan berusaha menghargai orang yang sudah menghargainya.
Apakah anda mengetahui kelemahan dan kelebihan yang anda miliki?
Hanya terkadang. Mengapa saya bilang terkadang? Karena terkadang saya mengetahui apa kelemahan dan kelebihan saya, tapi dilain waktu saya salah menafsirkan kelemahan saya sebagai kelebihan saya, pun sebaliknya.
Bagaimana sikap anda dalam mengatasi kelemahan dan mengembangkan kelebihan yang anda miliki?
Belajar, belajar, dan terus belajar. Belajar untuk terus menjadi lebih baik.
Kita hidup tidak selalu mulus, melainkan pasti ada masalah. Nah, apabila ada masalah anda akan berbagi dengan orang lain atau disimpan sendiri?
Berbagi seperlunya, karena saya meyakini sepenuhnya bahwa setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya. Berbagi cerita tentang permasalahan yang kita hadapi tidak menyelesaikan permasalahan kita, namun lebih pada mengurangi perasaan sesak yang mengganjal di dalam hati kita akan masalah tersebut. Dengan berbagi cerita juga bisa memberikan sudut pandang yang berbeda akan permasalahan yang dihadapi, sehingga kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan/solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Berpura-pura dalam hidup ini penting tidak? Berikan contohnya!
Jika dengan berpura-pura ada kemaslahatan yang lebih besar, maka mengapa tidak? White lie bukan lah sesuatu yang tercela.
Anda sudah bekerja, apa anda sudah merasa nyaman dengan pekerjaan anda?
Terkadang saya merasa nyaman, tapi disatu waktu saya merasa tidak nyaman. Karena menurut saya, rasa nyaman itu dibangun dari dalam diri, bukan dari lingkungan sekitar. Senyaman apapun lingkungan tempat kita tinggal bagi yang lain, jika diri sendiri tidak bisa membangun rasa nyaman, maka kita tidak akan pernah merasa nyaman. Tentu saja untuk membangun rasa nyaman itu ada banyak faktor yang mempengaruhi. Latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang saya geluti membuat saya nyaman, rekan-rekan kerja yang sangat kooperatif, jam kerja yang sangat fleksibel, semua hal itu membuat saya nyaman.
Bagaimana sikap anda dalam pekerjaan yang anda jalani?
Berusaha bekerja sesuai dengan jobdesk yang sudah diberikan. Memberikan sesuai dengan apa yang didapatkan.
Apakah anda sudah maksimal dalam menjalani pekerjaan ini?
Hahaha, pertanyaan menjebak ini. Seperti pertanyaan sebelumnya, saya selalu memberikan sesuai dengan apa yang saya dapatkan, kalo dalam pekerjaan, prinsip saya adalah give as you get. Tidak lebih tidak kurang.
Privasi itu dibutuhkan apa tidak?
Sure, karena yang paling sulit dilakukan di dunia ini adalah mengendalikan hawa nafsu, maka kita selalu membutuhkan waktu untuk berdamai dengan hati dan pikiran kita sendiri.
Pada saat apa anda akan merasa membutuhkan kesunyian dan pemisahan dari orang lain?
Saat yang pasti adalah ketika beribadah, bermunajah dengan Tuhan. Saat lainnya adalah ketika saya mulai merasa jenuh dengan semua hal yang menyesakkan dada.
Apa yang anda lakukan ketika dalam kesunyian dan sejenak memisahkan dengan orang lain?
Bermain-main dengan pikiran, mengimajinasikan hal-hal yang membuat saya berfikir ‘mengapa tidak?’. Hahaha, bentuknya bisa bermacam-macam, barangkali salah satunya adalah dengan membaca buku, novel, komik, atau menonton film?
Anda pasti memiliki banyak pengalaman, bagaimana sikap anda dengan pengalaman yang anda miliki?
Selalu belajar dari pengalaman yang ada, berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Selalu berusaha untuk menginstrospeksi diri jika itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, berusaha untuk tidak menyesalinya (walau penyesalan itu pasti saja muncul).
Ketika anda menjalani rutinitas ibadah, adakah pengalaman yang anda peroleh? Seberapa intens pengalaman yang anda peroleh?
Ibadah itu rahasia saya dengan Tuhan, saya bisa saja menuliskan apa yang sebenarnya tidak saya dapatkan. Tapi saya tidak seburuk itu, jadi saya rasa, lebih baik membuatnya tetap menjadi rahasia.
Masalah itu bisa diselesaikan atau tidak? Apabila iya, seberapa percayanya anda dalam menyelesaikan masalah?
Seperti pada pertanyaan sebelumnya, saya meyakini sepenuhnya bahwa setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya. Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatunya sia-sia, Tuhan pun menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasanngan. Maka begitu pula sebuah masalah. Jika Tuhan menciptakan sebuah masalah, maka disaat yang sama, Tuhan pun menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Sayangnya, kita seringkali terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa setiap masalah ada solusinya. Terjebak oleh perasaan bahwa masalah yang dihadapi tidak kunjung selesai, kita lebih suka memilih untuk berputus asa.
Dalam menyelesaikan masalah, anda percaya Tuhan ikut campur tidak?
Saya sudah menjelaskan dipertanyaan sebelumnya, silahkan di-copy paste. Hahahaha.
Kita sekarang melihat di sekitar kita banyak sekali kasus yang tidak manusiawi, bagaimana pendapat anda?
Manusiawi - tidak manusiawi itu relatif. Tidak manusiawi disini bagaimana maksudnya? Ah, kebanyakan dari kita bahkan kadang (me)lupa(kan) bagaimana sisi-sisi ke-manusiawi-an yang mereka miliki.
Apakah anda yakin bahwa diri anda memiliki fungsi pada tingkat sosial yang diharapkan masyarakat?
Tentu saja, paling tidak karena saya adalah perempuan, yang nantinya menjadi ibu rumah tangga, saya berperan besar dalam mendidik dan membesarkan anak-anak saya.
Manusia adalah makhluk sosial, apakah anda juga menjalin hubungan dengan orang lain?
Tentu saja, hubungan darah antara saya dan kedua orang tua saya, dengan saudara dan keluarga saya, dengan teman-teman saya, itu adalah hal yang tidak mungkin terelakkan. Saya bahkan ragu, memangnya ada ya orang yang bisa untuk tidak berhubungan dengan satu saja manusia lainnya?
Bagaimana sikap anda dalam menjalani hubungan sosial tersebut?
Sederhana saja, berusaha untuk selalu menghargai perasaan mereka, apapun kondisinya. Tapi kadang, bodohnya saya, saya masih saja tidak peka pada perasaan mereka.
Apakah ada perasaan menyayangi dan mencintai dalam menjalin hubungan sosial tersebut?
Kalau tidak ada perasaan sayang dan cinta, untuk apa ada hubungan? Hanya menghabiskan waktu, dan pikiran saja.
Kepada siapakah perasaan menyayangi dan mencintai itu anda berikan? Semua orang atau hanya pada orang tertentu?
Semuanya, tapi mungkin saya lebih memberikan treatment khusus pada orang-orang yang memang dekat dengan saya. Hahahaha.
Pernahkah anda membuat sebuah karya? Apa saja itu?
Pernah, waktu SD sampai SMA saya rajin sekali membuat prakarya di pelajaran Seni Rupa. Mau bagaimana lagi kan? Suka tidak suka, harus. Lagipula, anak seusia itu, orientasi nya kan nilai, bukan hasil. Tapi rasanya waktu saya seusia itu, saya senang-senang saja membuatnya. Sewaktu kuliah mungkin saya lebih suka membuat karya tulis ilmiah, sudah lebih berkelas lah.. Hahahaha..
Dalam membuat karya tersebut, ide yang muncul tiba-tiba atau sudah terencana?
Yang mana nih? Pas sekolah sih ya sudah direncanakan, kan tepatnya ‘disuruh’ membuat apa sama Guru di sekolah. Ketika sudah menyandang gelar yang lebih berkelas, mahasiswa, ya ide untuk membuat tulisan itu muncul tiba-tiba, namun merealisasikan nya cukup terencana, sudah lebih terorganisir mungkin lebih tepatnya.
Apakah karya tersebut telah ada yang membuat sebelumnya atau anda mengadaptasi dari yang sudah ada?
Mari lupakan masa-masa putih-merah sampai putih-abu-abu. Karya tulis yang saya buat itu lebih pada realita yang ada kemudian dituangkan menjadi sebuah tulisan berbentuk penelitian terhadap realita tersebut. Jadi bagaimana saya menyebutnya? Telah ada atau mengadaptasi?
Menurut anda, perbedaan ras, warna kulit, agama, kelas sosial dan tingkat pendidikan itu bagaimana? Anda termasuk orang yang demokratis apa tidak?
Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus diperdebatkan, kita ini sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya di hadapan Tuhan itu kan bukan perbedaan-perbedaan nya, lebih pada ketakwaannya. Jadi mengapa pula kita harus sibuk memikirkannya? Lagipula yang memunculkan perbedaan-perbedaan itu siapa sih? Bukannya manusia-manusia itu sendiri.
Anda suka humor? Humor yang bagaimana yang anda sukai?
Ya, humor yang tidak menyakiti perasaan orang tentunya.
Apakah dampak dari humor itu baik?
Tentu saja. Humor itu bisa membuat orang tertawa, atau paling tidak tersenyum. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa diperlukan lebih banyak otot untuk mengerutkan wajah dibandingkan untuk tersenyum.
Apakah anda mempunyai tujuan dalam hidup ini?
Sure. Jika kita tidak mempunyai tujuan maka tentu kita tidak akan tahu dimana atau kemana akhir dari perjalanan hidup ini. Sayangnya, saya pun kadang terombang-ambing, masih sering bergalau-ria dengan pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup.
Apabila dihadapkan pada suatu masalah, apakah ada prioritas yang mana yang akan anda selesaikan?
Tentu. Saya termasuk orang yang mempunyai banyak pertimbangan ketika mengambil sebuah keputusan. Pun di dalam menyelesaikan suatu permasalahan, saya mempunyai banyak pertimbangan untuk menentukan permasalahan yang mana yang hendak saya selesaikan terlebih dahulu.
Saat ini banyak orang yang tidak menghargai kebudayaan dan nilai-nilai luhur, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?
Tidak menghargai itu karena pemahamannya yang kurang, bukan karena kebudayaannya yang keliru.
Bagaimana cara kita meminimalisir adanya pengaruh kebudayaan Barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan Timur?
Membangun benteng pertahanan yang kuat, terutama dalam hal pemahaman agama. Banyak membaca, banyak mencari tahu. Banyak mencari pemahaman-pemahaman yang baik. Belajar dari siapapun. Bebas tapi tidak kebablasan.
Yang terakhir bagaimana kepribadian sehat menurut anda? Jelaskan!
Sederhana saja, seperti kehidupan, kepribadian yang sehat adalah sinkronisasi antara jiwa dan raga. Jiwa diwakilkan oleh perasaan (hati). Sementara raga diwakilkan oleh pikiran (otak). Tanpa keseimbangan dari keduanya, ada cacat yang terbentuk. Terlalu banyak menggunakan hati, bisa menimbulkan kecacatan otak, atau malah malfungsi? Sementara terlalu banyak memanfaatkan otak, tanpa menggunakan hati, apalah bedanya kita dengan robot?
Sayangnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya tidak diberitahu dimana korelasi masing-masing pertanyaan. Tapi yang pasti, semua pertanyaan mempunyai titik temu yang sama, tentang (ke)hidup(an). Jadi, mari bertanya pada diri kita masing-masing, bagaimana sejatinya kita menjawab tentang ke(hidup)an ini..
Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dijadikan objek penelitiannya. Saya dipaksa dengan ancaman 'bukan mbak nya adek lagi' kalau tidak mau membantunya menyelesaikan tugas kuliahnya. Tugasnya kali ini membuat saya bertafakur, mempertanyakan kembali tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Namun yang sangat menyesakkan adalah fakta bahwa ternyata saya sering sekali berkoar-koar tentang pemahaman yang baik, tapi terkadang saya lupa diri, saya merasa menjadi orang yang munafik. Ah, semoga saja pemikiran itu tidak benar adanya. Here we go,,,
Bagaimana pandangan atau pendapat anda tentang kehidupan ini?
Ada banyak definisi umum tentang kehidupan yang sudah sering kita dengar, mulai dari hidup adalah perjuangan, hidup adalah pilihan, hidup adalah kompetisi dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, hidup adalah tentang kejujuran, hidup juga adalah kesederhanaan, hidup pun adalah kebijaksanaan, hidup adalah kerja keras, hidup adalah pelajaran, hidup juga tentang kesabaran, hidup adalah interaksi antara manusia dan Tuhannya, juga antara manusia satu dengan manusia lainnya, dan diksi-diksi lain yang tidak mungkin dituliskan satu persatu. Maka bagi saya, hidup adalah semua diksi yang meliputi kehidupan itu sendiri.
Diatas itu semua, hidup adalah sinkronisasi antara hati dan pikiran. Tentu saja diksi-diksi tersebut dikendalikan oleh hati dan pikiran kita.
Anda sudah merasa dunia ini menyediakan segalanya yang anda butuhkan? berikan contohnya !
Terinspirasi dari salah satu peribahasa Swedia ; “Siapapun yang ingin bernyanyi, selalu menemukan lagu untuk dinyanyikan.”. Ya, apapun yang kita butuhkan segalanya sudah tersedia. Namun kemudian yang menjadi pertanyaan bukan ‘dimana kita dapat menemukannya’, tapi lebih pada pertanyaan ‘apakah kita mau mencarinya’. Setelah ada kemauan itu, muncul kembali pertanyaan ‘apakah kita mau bersabar untuk mendapatkannya’. Selain itu, kita pun seringkali terjebak pada definisi antara kebutuhan dan keinginan. Padahal apa yang kita inginkan belum tentu adalah apa yang kita butuhkan. Sehingga kadang kita merasa apa yang kita butuhkan ini acapkali tak bisa terpenuhi.
Apa ada tuntutan lebih yang anda harapkan atau berikan kepada orang-orang di sekitar anda?
Tentu saja, bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa sejatinya kita sebagai manusia selalu ingin merasa dihargai. ‘Di-manusia-kan’ dan ‘me-manusia-kan’ ini yang menjadi harapan bagi setiap orang, karena ketika setiap orang merasa dihargai, maka ia akan berusaha menghargai orang yang sudah menghargainya.
Apakah anda mengetahui kelemahan dan kelebihan yang anda miliki?
Hanya terkadang. Mengapa saya bilang terkadang? Karena terkadang saya mengetahui apa kelemahan dan kelebihan saya, tapi dilain waktu saya salah menafsirkan kelemahan saya sebagai kelebihan saya, pun sebaliknya.
Bagaimana sikap anda dalam mengatasi kelemahan dan mengembangkan kelebihan yang anda miliki?
Belajar, belajar, dan terus belajar. Belajar untuk terus menjadi lebih baik.
Kita hidup tidak selalu mulus, melainkan pasti ada masalah. Nah, apabila ada masalah anda akan berbagi dengan orang lain atau disimpan sendiri?
Berbagi seperlunya, karena saya meyakini sepenuhnya bahwa setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya. Berbagi cerita tentang permasalahan yang kita hadapi tidak menyelesaikan permasalahan kita, namun lebih pada mengurangi perasaan sesak yang mengganjal di dalam hati kita akan masalah tersebut. Dengan berbagi cerita juga bisa memberikan sudut pandang yang berbeda akan permasalahan yang dihadapi, sehingga kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan/solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Berpura-pura dalam hidup ini penting tidak? Berikan contohnya!
Jika dengan berpura-pura ada kemaslahatan yang lebih besar, maka mengapa tidak? White lie bukan lah sesuatu yang tercela.
Anda sudah bekerja, apa anda sudah merasa nyaman dengan pekerjaan anda?
Terkadang saya merasa nyaman, tapi disatu waktu saya merasa tidak nyaman. Karena menurut saya, rasa nyaman itu dibangun dari dalam diri, bukan dari lingkungan sekitar. Senyaman apapun lingkungan tempat kita tinggal bagi yang lain, jika diri sendiri tidak bisa membangun rasa nyaman, maka kita tidak akan pernah merasa nyaman. Tentu saja untuk membangun rasa nyaman itu ada banyak faktor yang mempengaruhi. Latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang saya geluti membuat saya nyaman, rekan-rekan kerja yang sangat kooperatif, jam kerja yang sangat fleksibel, semua hal itu membuat saya nyaman.
Bagaimana sikap anda dalam pekerjaan yang anda jalani?
Berusaha bekerja sesuai dengan jobdesk yang sudah diberikan. Memberikan sesuai dengan apa yang didapatkan.
Apakah anda sudah maksimal dalam menjalani pekerjaan ini?
Hahaha, pertanyaan menjebak ini. Seperti pertanyaan sebelumnya, saya selalu memberikan sesuai dengan apa yang saya dapatkan, kalo dalam pekerjaan, prinsip saya adalah give as you get. Tidak lebih tidak kurang.
Privasi itu dibutuhkan apa tidak?
Sure, karena yang paling sulit dilakukan di dunia ini adalah mengendalikan hawa nafsu, maka kita selalu membutuhkan waktu untuk berdamai dengan hati dan pikiran kita sendiri.
Pada saat apa anda akan merasa membutuhkan kesunyian dan pemisahan dari orang lain?
Saat yang pasti adalah ketika beribadah, bermunajah dengan Tuhan. Saat lainnya adalah ketika saya mulai merasa jenuh dengan semua hal yang menyesakkan dada.
Apa yang anda lakukan ketika dalam kesunyian dan sejenak memisahkan dengan orang lain?
Bermain-main dengan pikiran, mengimajinasikan hal-hal yang membuat saya berfikir ‘mengapa tidak?’. Hahaha, bentuknya bisa bermacam-macam, barangkali salah satunya adalah dengan membaca buku, novel, komik, atau menonton film?
Anda pasti memiliki banyak pengalaman, bagaimana sikap anda dengan pengalaman yang anda miliki?
Selalu belajar dari pengalaman yang ada, berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Selalu berusaha untuk menginstrospeksi diri jika itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, berusaha untuk tidak menyesalinya (walau penyesalan itu pasti saja muncul).
Ketika anda menjalani rutinitas ibadah, adakah pengalaman yang anda peroleh? Seberapa intens pengalaman yang anda peroleh?
Ibadah itu rahasia saya dengan Tuhan, saya bisa saja menuliskan apa yang sebenarnya tidak saya dapatkan. Tapi saya tidak seburuk itu, jadi saya rasa, lebih baik membuatnya tetap menjadi rahasia.
Masalah itu bisa diselesaikan atau tidak? Apabila iya, seberapa percayanya anda dalam menyelesaikan masalah?
Seperti pada pertanyaan sebelumnya, saya meyakini sepenuhnya bahwa setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya. Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatunya sia-sia, Tuhan pun menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasanngan. Maka begitu pula sebuah masalah. Jika Tuhan menciptakan sebuah masalah, maka disaat yang sama, Tuhan pun menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Sayangnya, kita seringkali terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa setiap masalah ada solusinya. Terjebak oleh perasaan bahwa masalah yang dihadapi tidak kunjung selesai, kita lebih suka memilih untuk berputus asa.
Dalam menyelesaikan masalah, anda percaya Tuhan ikut campur tidak?
Saya sudah menjelaskan dipertanyaan sebelumnya, silahkan di-copy paste. Hahahaha.
Kita sekarang melihat di sekitar kita banyak sekali kasus yang tidak manusiawi, bagaimana pendapat anda?
Manusiawi - tidak manusiawi itu relatif. Tidak manusiawi disini bagaimana maksudnya? Ah, kebanyakan dari kita bahkan kadang (me)lupa(kan) bagaimana sisi-sisi ke-manusiawi-an yang mereka miliki.
Apakah anda yakin bahwa diri anda memiliki fungsi pada tingkat sosial yang diharapkan masyarakat?
Tentu saja, paling tidak karena saya adalah perempuan, yang nantinya menjadi ibu rumah tangga, saya berperan besar dalam mendidik dan membesarkan anak-anak saya.
Manusia adalah makhluk sosial, apakah anda juga menjalin hubungan dengan orang lain?
Tentu saja, hubungan darah antara saya dan kedua orang tua saya, dengan saudara dan keluarga saya, dengan teman-teman saya, itu adalah hal yang tidak mungkin terelakkan. Saya bahkan ragu, memangnya ada ya orang yang bisa untuk tidak berhubungan dengan satu saja manusia lainnya?
Bagaimana sikap anda dalam menjalani hubungan sosial tersebut?
Sederhana saja, berusaha untuk selalu menghargai perasaan mereka, apapun kondisinya. Tapi kadang, bodohnya saya, saya masih saja tidak peka pada perasaan mereka.
Apakah ada perasaan menyayangi dan mencintai dalam menjalin hubungan sosial tersebut?
Kalau tidak ada perasaan sayang dan cinta, untuk apa ada hubungan? Hanya menghabiskan waktu, dan pikiran saja.
Kepada siapakah perasaan menyayangi dan mencintai itu anda berikan? Semua orang atau hanya pada orang tertentu?
Semuanya, tapi mungkin saya lebih memberikan treatment khusus pada orang-orang yang memang dekat dengan saya. Hahahaha.
Pernahkah anda membuat sebuah karya? Apa saja itu?
Pernah, waktu SD sampai SMA saya rajin sekali membuat prakarya di pelajaran Seni Rupa. Mau bagaimana lagi kan? Suka tidak suka, harus. Lagipula, anak seusia itu, orientasi nya kan nilai, bukan hasil. Tapi rasanya waktu saya seusia itu, saya senang-senang saja membuatnya. Sewaktu kuliah mungkin saya lebih suka membuat karya tulis ilmiah, sudah lebih berkelas lah.. Hahahaha..
Dalam membuat karya tersebut, ide yang muncul tiba-tiba atau sudah terencana?
Yang mana nih? Pas sekolah sih ya sudah direncanakan, kan tepatnya ‘disuruh’ membuat apa sama Guru di sekolah. Ketika sudah menyandang gelar yang lebih berkelas, mahasiswa, ya ide untuk membuat tulisan itu muncul tiba-tiba, namun merealisasikan nya cukup terencana, sudah lebih terorganisir mungkin lebih tepatnya.
Apakah karya tersebut telah ada yang membuat sebelumnya atau anda mengadaptasi dari yang sudah ada?
Mari lupakan masa-masa putih-merah sampai putih-abu-abu. Karya tulis yang saya buat itu lebih pada realita yang ada kemudian dituangkan menjadi sebuah tulisan berbentuk penelitian terhadap realita tersebut. Jadi bagaimana saya menyebutnya? Telah ada atau mengadaptasi?
Menurut anda, perbedaan ras, warna kulit, agama, kelas sosial dan tingkat pendidikan itu bagaimana? Anda termasuk orang yang demokratis apa tidak?
Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus diperdebatkan, kita ini sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya di hadapan Tuhan itu kan bukan perbedaan-perbedaan nya, lebih pada ketakwaannya. Jadi mengapa pula kita harus sibuk memikirkannya? Lagipula yang memunculkan perbedaan-perbedaan itu siapa sih? Bukannya manusia-manusia itu sendiri.
Anda suka humor? Humor yang bagaimana yang anda sukai?
Ya, humor yang tidak menyakiti perasaan orang tentunya.
Apakah dampak dari humor itu baik?
Tentu saja. Humor itu bisa membuat orang tertawa, atau paling tidak tersenyum. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa diperlukan lebih banyak otot untuk mengerutkan wajah dibandingkan untuk tersenyum.
Apakah anda mempunyai tujuan dalam hidup ini?
Sure. Jika kita tidak mempunyai tujuan maka tentu kita tidak akan tahu dimana atau kemana akhir dari perjalanan hidup ini. Sayangnya, saya pun kadang terombang-ambing, masih sering bergalau-ria dengan pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup.
Apabila dihadapkan pada suatu masalah, apakah ada prioritas yang mana yang akan anda selesaikan?
Tentu. Saya termasuk orang yang mempunyai banyak pertimbangan ketika mengambil sebuah keputusan. Pun di dalam menyelesaikan suatu permasalahan, saya mempunyai banyak pertimbangan untuk menentukan permasalahan yang mana yang hendak saya selesaikan terlebih dahulu.
Saat ini banyak orang yang tidak menghargai kebudayaan dan nilai-nilai luhur, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?
Tidak menghargai itu karena pemahamannya yang kurang, bukan karena kebudayaannya yang keliru.
Bagaimana cara kita meminimalisir adanya pengaruh kebudayaan Barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan Timur?
Membangun benteng pertahanan yang kuat, terutama dalam hal pemahaman agama. Banyak membaca, banyak mencari tahu. Banyak mencari pemahaman-pemahaman yang baik. Belajar dari siapapun. Bebas tapi tidak kebablasan.
Yang terakhir bagaimana kepribadian sehat menurut anda? Jelaskan!
Sederhana saja, seperti kehidupan, kepribadian yang sehat adalah sinkronisasi antara jiwa dan raga. Jiwa diwakilkan oleh perasaan (hati). Sementara raga diwakilkan oleh pikiran (otak). Tanpa keseimbangan dari keduanya, ada cacat yang terbentuk. Terlalu banyak menggunakan hati, bisa menimbulkan kecacatan otak, atau malah malfungsi? Sementara terlalu banyak memanfaatkan otak, tanpa menggunakan hati, apalah bedanya kita dengan robot?
That's all...
Komentar
Posting Komentar