Langsung ke konten utama

Perjalanan Waktu

credit photo by @hfsn

25 tahun yang lalu,
Di atas tumpukan kardus bekas di kolong meja dagangan ayahnya,
anak kecil dengan pipi tembam dan rambut dikucir 2 itu tertidur.
Lelap setelah lelah seharian berlarian di sudut2 pasar. Blok ayam. Blok sayuran. Blok ikan.
Bau, kotor dan becek.
Tak apa, yang ia tahu hanya bermain.
Ia senang.

20 tahun yang lalu,
Di atas vespa tua ayahnya.
Pulang ke rumah yang berjarak tak dekat.
Berhimpitan dengan kakak lelakinya.
Hujan. Basah.
Tak apa, yang ia tahu disana ada rumah tempat mereka pulang.
Ia senang.


15 tahun lalu,
Di sekolah dekat alun2 kota.
Tak ada lagi pipi tembam, ia sudah beranjak remaja.
Yang ia pikirkan hanya 2.
Komik dan kemana tujuan melewatkan jam pelajaran sekolah.
Bersama mereka yang ia anggap teman.
Seperti remaja lain; Apa yang aku mau harus dituruti.
Ia mulai berontak, merajuk akan hal yang tak semestinya.

10 tahun yang lalu,
Di sebelah utara rel kereta yang membelah kota yang cantik.
Kawasan dengan pepohonan tinggi.
Kawasan sejuk, kawasan elit.
Berbeda dengan tempat tinggalnya.
Jangankan halaman, teras rumah pun tak ada.
Berada di antara orang-orang dengan inteligensi diatas rerata.
Gadis remaja itu lalai memahami siapa ia sesungguhnya.
Ia terjatuh, limbung. Kehilangan arah.

5 tahun yang lalu,
Di sebuah kota yang ramah, di musim yang hangat.
Saat toga pertama kawan seperjuangan dipakai, gadis itu kehilangan lelaki penjaganya.
Ayah-ibu memilih jalan yang berbeda atas kehilangan itu.
Ia terjatuh lagi. Kesekian kali.
Berteman dengan kesedihan dan dendam.
Menyumpahi takdir. Merutuki keadaan.
Namun, ia bangkit dengan caranya.
Tertatih, perlahan, mengobati lukanya,  sendiri.
Menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.

Saat ini,
Di pinggiran ibukota, tak jauh dari keramaian.
Tak ada lagi kanak-kanak.
Tak ada lagi gadis remaja.
Ia, tumbuh menjadi wanita,
yang masih belajar untuk dewasa,
yang masih belajar untuk menerima,
yang masih belajar untuk memiliki keluasan hati,
yang masih belajar setia menanti.
Dalam sabar dan syukur.
Dalam pemahaman baik yang ia pegang.
Dengan segala kekurangan yang ia miliki.



*Kota kesekian yang sepertinya terakhir, 3 pekan menuju pergantian tahun.

Komentar

Other Story

Memperpendek Gap dalam Persepsi.

persepsi /per·sep·si/  /persépsi/  n   1  tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan:  2  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya; Lagi, tulisan kali ini hasil diskusi bersama kawan yang saya ceritakan di postingan sebelum ini. Diskusi bermula dari kalimat tanpa titik koma yang diakhiri tawa; Tentu saja bagi saya yang amat sangat memperhatikan tanda baca, kalimat semacam ini membingungkan pada awalnya. Persepsi yang dibangun dari kalimat ini akan sangat tergantung dari tanda baca apa yang digunakan dan dimana tanda baca diletakkan. Tulisan kali ini tidak akan berfokus pada persepsi karena tanda baca (di tulisan lain mungkin bisa saya bahas), tapi lebih pada konten dari kalimat yang saya pahami sebagai sebuah pernyataan alih-alih pertanyaan. Iya, kalimat tersebut saya persepsikan sebagai sebuah pernyataan yang diakhiri dengan sebuah tawa yang penuh kegetiran; Ada sebuah gap yang terbangun ketika kita berbicara dengan orang y...

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015