Langsung ke konten utama

Jenuh yang menuntut jeda.

Ya, saat ini saya kembali berada di fase dimana saya merasa jenuh. Kembali mempertanyakan apa yang sedang saya lakukan? untuk apa akhir dari semua ini.
Saya tau apa yang saya rasakan ini masih 'wajar', dan saya tahu saya tidak boleh (atau tidak harus?) berlama-lama berada di fase ini, pun saya sadar bahwa saya tidak harus membuat diri saya merasa nyaman dengan keadaan ini.

32 hari lagi saya harus kembali lagi beradaptasi dengan kondisi yang baru, bersama orang-orang baru di tempat yang baru. Apakah semestinya saya excited atau nervous? Saya tidak sedang merasakan keduanya. Saya hanya merasa jenuh. Memulai lagi, adaptasi lagi, menjalaninya lagi, melewatinya lagi.

Saya butuh jeda, tapi saya sendiri mulai bingung, apalagi yang bisa saya lakukan dalam jeda untuk tidak lagi merasa jenuh? membaca buku? menonton drama? bermain smartphone? memasak? membeli barang-barang yang saya inginkan sekaligus saya butuhkan?
Saya tahu, bagaimana saya harus tetap menjaga kewarasan saya, tapi saya masih saja merasa jenuh...

Komentar

Other Story

Jatuh Hati (Repost)

Demi dzat yang memiliki setiap kata yang bisa maupun yang tidak tertuliskan, ada saja cara Allah memberikan jawaban atas setiap kegelisahan hati kita... Ketika kita marah dengan Tuhan, benci sekali atas takdir Tuhan, bilang Tuhan tidak adil, apakah kita seketika berhenti bernafas? Diambil oleh Tuhan oksigen di sekitar kita? Apakah kita berhenti minum? Diambil seketika oleh Tuhan H2O itu di sekitar kita? Tidak, kan? Padahal mudah saja. Itulah kasih sayang Tuhan.

Ada Hati

@retnohening Sesak . . . Ada hati yang terluka. Ada hati yang merasa. Ada hati yang tak dihargai. Ada hati yang merindu. Ada hati . . . Tak apalah, Hanya sesaat. Hanya saat ini. Esok lusa, Hati ini bisa, kembali memaafkan. Hati ini bisa, kembali menerima. Lapang . . . Bandung, 8 Agustus 2015