Langsung ke konten utama

Postingan

Realita di pagi hari

Haaai.. gw nulis lagi ya. Kali ini gw mau cerita tentang rutinitas di pagi hari selama lebih dari 3 bulan ini. Yup, baru saja awal Februari kemarin genap 4 tahun menikmati hidup dimana kantor dan rumah hanya berjarak paling lama 10 menit, itupun kalau kejebak lampu APILL - yang cuma ada 1, sekitar 6 atau 7 menit dari rumah, gw sudah duduk manis di kantin buat sarapan. Lah? Kerja woy! Malah ngantin. Hahaha.. Biasanya gw jam 7 baru mulai berfikir outfit apa yang bakal gw pakai ke kantor hari ini - plus jilbabnya yang mana yang matching, sambil nyeruput kopi ditemani tayangan infotainment yang jadi soundtrack ketika scrolling sosial media. Kemudian negara api menyerang 🔥🔥🔥, dan berubahlah semua rutinitas pagi hari gw.  Jam 7 teng gw udah harus ada di kelas, dan rumah gw 10 km dari kampus. Oke fine, terimakasih. Hari pertama, karena gw takut telat dan belum tau rute yang oke, jam 05.30 gw udah mandi, jam 06.10 gw udah cus. Jam 06.50 gw udah di kel...

Left Group or Not?

Hai.. ini udah minggu ke 11 jd calon mahasiswa nih..  It's mean  sudah 10 minggu ninggalin dunia persilatan  a.k.a kantor .  Amazing ! Minggu2 awal setiap kali ada notif whatsapp dari grup dunia persilatan, masih gw tanggapin beberapa, terlebih yang berhubungan dengan tugas gw sebelumnya. Tapi sempet ditegur "penasehat" gw buat gak banyak ngasih masukan, karena ada yang lebih bertanggungjawab (juga kompeten tentunya). Then, saking udah terbiasanya sekarang jurus " clear all chat > delete " sudah lama dipakai. Paling cuma baca sekilas, itupun kalo  mood  baca - dan seringnya sih banyak gak moodnya :p. Bayangkan cyin, gw punya 30 grup whatsapp!!! Yg aktif hampir setengahnya, sisanya mati susah hidup pun repot. Tapi kl lagi aktif.. ampun dije.. nguras batre hape :( Terus kenapa gak left group aja? Nah itu dia, permohonan gw buat left group ditolak sama adminnya, mungkin gw dianggap penting di grup itu atau mereka gak mau kehilangan gw. Bahahaha.....

Transformasi Memori menjadi Diary

Halo, setelah lebih dari setengah abad lamanya .. eh setengah tahun ding 😄-- lama amat setengah abad, usia gw aja blm sampe segitu keleus , akhirnya niat nulis terealisasi kembali. Alhamdulillah... Sebelumnya, ada yang ngeh gak sih kalo tagline blog ini berubah? -- yaelah, siapa juga yang mau merhatiin, kaya blog nya ( banyak ) ada yang baca aja 😝. Sebelumnya tagline dari blog ini agak serius dikit bahasanya, ... mengubah memori menjadi memoar ... Aseek.. keren kan bahasanya? Ada yang tahu kah arti memoar itu apa? Apa bedanya dengan memori? Kalau ada yang mau iseng nyari di KBBI monggo lho. Tapi tenang aja, buat kalian yang malas macam gw  ini 😁 sudah ada nih... memori /me·mo·ri/  /mémori/  n   1  kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali; ingatan;  2  catatan yang berisi penjelasan;  3  peringatan; keterangan ;   4  peranti komputer yang dapat menyimpan dan merekam informasi; memoar /me·mo·ar/ ...

Kelok Hidup (Bagian 1)

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin membuat tulisan dengan tema ini. Tepatnya sejak saya dinyatakan sebagai peringkat 3 dari 27 orang yang mengikuti rangkaian tes hingga tahapan akhir untuk salah satu jabatan fungsional di lembaga tempat saya mengabdi saat ini, 25 Desember 2013.  It's almost 4 years ago . . . Dan kemudian saya merasa, "Ya ampun, serasa baru kemarin saya belajar untuk tes kucing -kucingan (selain nama tes ini memang kucing dalam bahasa Inggris, hehe ^^, saya juga benar-benar kucing-kucingan mencari waktu untuk belajar di sela-sela pekerjaan dan kelelahan saya), serasa baru kemarin punggung tangan saya distempel oleh panitia, serasa baru kemarin saya menangis tergugu di sela sujud shalat maghrib setelah membaca pengumuman akhir kelulusan". Bukan, tulisan ini bukan tentang bagaimana tips dan trik agar diterima sebagai pegawai negeri. Maaf kalau itu yang dicari dari tulisan ini, saran saya sebaiknya sudahi saja membacanya. Ada banyak tulisan dari situ...

(Repost) Mendoakanmu adalah cara yang paling benar

diambil dari sini :) Jemari bergerak lincah, Menekan tombol pada layar ponsel, Sebuah kalimat sapa yang tertuju untukmu, Telah tertata dengan rapi. Ku baca lagi beberapa detik, Sebelum akhirnya, Kuputuskan untuk menekan tombol silang, Sampai kalimat itupun hilang. Sekarang, Besok, Lusa, entah sampai kapan nanti, Mungkin akan terus seperti ini, Pesan itu tak pernah ku kirim. Ku letakkan kembali ponselku, Sembari menunggu, Ada dering pertanda pesan masuk, Ku kira dari dirimu, Ternyata itu perhatian dari operator, Karena sudah hampir tipis quota internetku. Nasib :( Mungkin caraku yang keliru, Terpikir ingin menyapamu lewat pesan, Tapi aku sadar, Mendoakanmu adalah cara yang paling benar :) Jurnal kali ini repost dari postingan di fanspage  Anandito Dwis  (dan ternyata setelah saya cek ulang sumber aslinya adalah dari instagram Gilang Raksa Dipraja). Entah kenapa ketika aq membacanya malah jadi baper sendiri. Hahaha... type... delete... type.....

R.A.H.A.S.I.A

ada banyak hal yang kita tidak tahu tentang kehidupan kebahagiaan kesedihan rasa sakit luka. ada banyak rahasia Tuhan yang kamu butuhkan hanya satu, iman. #Jurnal52 #Minggu17

Silu

Kapan? Dimana? Itu hanya tanya biasa bukan? Tapi bagiku, silu setiap kali harus menjawab dengan kalimat yang sama. Apa aku yang memilih untuk seperti ini? Apa aku yang tak pernah meminta? Seperti tanya yang tak mungkin tak berjawab, semua yang ada di dunia ini berimbang. Dengan siapa dan bagaimana cara kami bertemu. Biar waktu yang berbaik hati menjawab setiap tanya. #Jurnal52 #Minggu14

Tempat yang tinggi

Apa yg bisa kamu banggakan? Berada di tempat tinggi, tidak semestinya membuatmu memandang rendah apa-apa yg ada dibawahmu. Berada di tempat yang tinggi, semestinya membuatmu ingat; bahwa kamu lebih rawan untuk jatuh, bisa jadi jauh lebih rendah dr tempat terendah yang ada. Tidak ada yg bisa kamu banggakan. Kamu tidak memiliki apapun... Bandung, 10 Maret 2017 #jurnal52 #minggu10

Pilihan Kata

Akhir-akhir ini, seakan sudah menjadi kebiasaan, ketika ada teman di sosial media yang meninggalkan komentar di status yang aku buat, aku berusaha sebisa mungkin menanyakan kabar anak mereka (kalau mereka sudah punya anak, kalau punya suami aja sih masa iya aku tanyain kabarnya juga, ndak dikira kurang kerjaan, haha). Biasanya juga, aku mencoba meluangkan waktu untuk  scrolling timeline  mereka agar bisa menemukan siapa nama anaknya. Sebenarnya aku pikir masih cukup etis sih kalau sekedar bertanya 'Anakmu apa kabar? Sudah bisa apa?' (walaupun kesan basa-basinya kentara benar ya, haha). Tapi sepertinya ada yang berbeda ketika aku bertanya dengan menambahkan nama semacam ini, 'Quinsya apa kabar? Sekolahnya lancar?', atau 'Angger apa kabar? Sudah mau makan sendiri?', atau semacam ini, 'Nisa apa kabar? Masih rewel gara2 pilek nya?'. Bahasanya sama, sekedar bertanya kabar. Tapi feel yang didapatkan berbeda. Merasa lebih diperhatikan, merasa lebih diharg...

[Tidak Ada Lagi] Perjalanan Tanpa Arah dan Tujuan

@fiersabesari Terkadang, menulis itu membutuhkan sedikit keterpaksaan. Tidak jarang kita butuh inspirator yang membuat keterpaksaan itu menjadi hal semacam 'Oke, aku juga bisa melakukannya'. Secara teknis, jurnal ini terinspirasi oleh JURNAL366 milik Bung Fiersa Besari. Apa yang bisa aku katakan tentang jurnal366? Hanya satu kata, KONSISTENSI. Luar biasa, tidak ada satu haripun yang terlewatkan selama 366 hari di sepanjang Tahun 2016. Awalnya ketika Bung Fiersa membuat satu dari 10 tantangan yang harus ditunaikan di tahun 2016, maka aku pun memantapkan hati untuk konsisten membacanya setiap kali jurnal tersebut terbit. Nyatanya, terkadang aku pun terpaksa merapel 2atau 3 hari sekaligus. Susah sekali untuk bisa konsisten, padahal hanya sekedar membaca, bukan menulis. Tahun ini aku akan mencoba tantangan yang sama namun dengan kuantitas yang lebih rendah. Harapanku, walaupun kuantitasnya tak sebanding dengan apa yang Bung telah buat tahun lalu, secara kualitas masih layak...

Puncak Impian

photo by @moko_mojo Gunung mengajarkan kita tentang impian, Impian yg didapatkan dengan perjuangan. Ada nafas yang terengah di setiap langkahnya, Ada detak jantung meningkat di setiap tanjakannya, Ada asa yg terputus untuk mencapai titik tertinggi, Ada lelah yang berulang kali mencoba membunuh mimpimu. Tapi, ada haru, ada bahagia, ada tangis, ada tawa, saat kakimu akhirnya menjejak puncak,  saat impianmu akhirnya terwujud. Kaki Gunung Bromo, Juli 2016.

Mencari Kebahagiaan

Instagram @therealfatih ... karena bahagia itu dibuat, tidak perlu kau cari kemana-mana ...

Bertahan untuk Kembali

Instagram @fahdpahdepie Tentang pergi dan pulang. Tentang meninggalkan dan bertahan. Tentang pergi dan kembali. Itu sudah menjadi hal yg pasti dalam hidup. Yang pergi bukan berarti tidak kembali. Hanya saja terkadang kita sebagai manusia butuh waktu untuk sendiri, tidak melulu bersama sepanjang waktu. Pun bisa jadi yang pergi akan selamanya pergi. Tanpa sedetik pun menengok ke belakang. Namun, diantara itu semua jangan melupakan orang yg bersedia menguatkan hatinya, melapangkan hatinya, juga jiwa dan raga untuk bertahan. Bertahan untuk mencintai, menyayangi dan memutuskan untuk tetap membersamai. Yang bertahan itulah yang indah hatinya. Bertahan itu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, namun seringkali yang bertahan justru ditinggalkan dengan berbagai alasan. Dan akhirnya yang bertahan pun akan mengatakan 'aku menyadari satu hal ;  yang bukan untukku, sekeras apapun kupaksakan, tetap saja tak akan menjadi milikku.' Suatu pagi, 27 Juni 2016....

Selimut pasir dan buih ombak

... bu ih ombak dan pasir di tepian pantai Tanjung Ann, Lombo k - 13 Mei 2016... Ada banyak hal yang kusuka. Salah satunya, membuat jemari kaki berselimutkan pasir pantai yang putih dan membiarkan buih ombak menyapu setiap butir pasir yang melekat. Setiap kali ombak berlari kembali ke lautan, maka setiap kali itu pula selalu ada butiran pasir yang tertinggal. Layaknya kamu yang menghapus rindu dan sesak ketika datang, pun selalu meninggalkan kenangan ketika berlalu. Berulang kali. Datang dan berlalu.

Pilihan Hidup

Kita berhak memilih hidup seperti apa yang kita inginkan Nak. Hidup bersama mereka yang memiliki aura positif. Atau menutup mata, telinga juga hatimu dari kumpulan orang dan lingkungan yang melemahkan. Kita selalu bisa memilih Nak. Maka, jika satu ketika kamu merasa ada yang salah dengan hidupmu, barangkali saja kamu sedang keliru mengambil pilihan? Tenang, tak perlu malu untuk  mundur beberapa langkah. Harga malu mu tak seberapa bila kau bandingkan dengan lompatan yang bisa kau dapatkan.. Karena hidup kita bukan pilihan A atau B semata.. :: suatu pagi, di rumah Abah Tanjung Aan, Mei 2016

Perjalanan Waktu

credit photo by @hfsn 25 tahun yang lalu, Di atas tumpukan kardus bekas di kolong meja dagangan ayahnya, anak kecil dengan pipi tembam dan rambut dikucir 2 itu tertidur. Lelap setelah lelah seharian berlarian di sudut2 pasar. Blok ayam. Blok sayuran. Blok ikan. Bau, kotor dan becek. Tak apa, yang ia tahu hanya bermain. Ia senang. 20 tahun yang lalu, Di atas vespa tua ayahnya. Pulang ke rumah yang berjarak tak dekat. Berhimpitan dengan kakak lelakinya. Hujan. Basah. Tak apa, yang ia tahu disana ada rumah tempat mereka pulang. Ia senang.

Sama

Hari yang sama Rutinitas yang sama Pagi Siang Sore Malam Seperti hamster yang bermain roda putar Berlari Terus dan terus Hingga akhirnya kelelahan..

Ada banyak alasan

Ada banyak alasan untukmu tetap berfikir jernih saat terhimpit masalah... Ada banyak alasan untukmu tetap berlaku tenang saat kalut mendera... Ada banyak alasan untukmu tetap tersenyum saat bersedih... dari sini :) Cibinong, penghujung Oktober 2015

Ada Hati

@retnohening Sesak . . . Ada hati yang terluka. Ada hati yang merasa. Ada hati yang tak dihargai. Ada hati yang merindu. Ada hati . . . Tak apalah, Hanya sesaat. Hanya saat ini. Esok lusa, Hati ini bisa, kembali memaafkan. Hati ini bisa, kembali menerima. Lapang . . . Bandung, 8 Agustus 2015

Surat Cinta untuk Anak-Anak Kapuas Hulu

Cibinong, 20 Maret 2015. Semangat pagi adik2 di Kapuas Hulu... Kapanpun kalian dibacakan oleh Ibu Guru Erni surat ini, maka Kakak akan menyapa kalian dengan sapaan semangat pagi, semoga hari kalian selalu sama seperti semangat kalian di pagi hari...