Langsung ke konten utama

Postingan

Rindu

Rabb, aku merindukannya. Aku mampu mengingat segala hal tentangnya.. Sungguh, rindu ini begitu menyesakkan. Rabb, bantu aku melupa. Kalaupun tak bisa semua, maka sebagian pun tak apa. Sungguh, rindu ini begitu menyesakkan.

Apakah...

Aku punya mata, tapi aku tak melihat. Aku punya telinga, tapi aku tak mendengar. Bukan tak mampu, mungkin tak mau. Aku juga punya hati, tapi aku... Pun juga otak, tapi aku... Aku tak ma(mp)u lg merasa juga berfikir "Punya otak itu dipake buat mikir, punya hati buat merasa." Sejatinya itulah (ke)hidup(an) Lantas, saat kita tak ma(mp)u lg melakukannya, apakah itu berarti kita sudah tidak hidup lg?

Satu Hari

Satu hari, kita dipertemukan. Aku, kamu, di sebuah ruang. Diam. Satu hari, ada canda. Aku, kamu, dan gelak tawa. Menyenangkan. Satu hari, ada tangis. Aku, kamu, genggaman dan pelukan. Menenangkan. Satu hari, kita dipisahkan. Aku, kamu, di tempat yang berbeda. Senyap.

Apakah ibu?

Apakah semua ibu memang seperti itu? Selalu memaafkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya. Selalu mendoakan di setiap sujud panjangnya. Selalu menyembunyikan air mata di balik senyumnya. Selalu memberikan kasih sayang yang sama. Ah, sepertinya aku memang masih belum bisa mengerti. Mungkin sampai suatu hari nanti, ketika aku menjadi seorang yang dipanggil ibu. Aku akan mengetahui apa jawabnya.

Bertahanlah

Ketika kamu tak sanggup lagi untuk berlari, Maka berjalanlah, Ketika berjalan pun tak sanggup lagi untuk kamu lakukan, Maka merangkaklah, Bertahanlah,  maka tapak demi tapak yang kamu lalui akan membawamu keujung, ke tempat dimana akhir perjalananmu. Bertahanlah.

Pelukan

Ketika masalah yang aku hadapi ini menyesakkan, kalimat pertama yang ingin aku dengar adalah 'bolehkah aku memelukmu?'. Diam. Tidak ada sepatah katapun, pelukan itu sudah lebih dari cukup menenangkan. Sungguh, aku tidak perlu mendengar kata-kata.

Mempertanyakan (Ke)Hidup(an)

Mempunyai adik yang menekuni kuliah di bidang kejiwaan sebenarnya sangat menyenangkan, tapi juga terkadang 'menyebalkan'. Karenanya saya suka sekali mencandai adek saya itu dengan kalimat seperti ini, "Ah adek ini emang (calon) psikolog yang butuh psikolog", dan sahutannya selalu saja seperti ini; "Iya, psikolog nya adek kan mbak". Hadeh, mati kutu saya dibuatnya. Susah mendebat adek saya itu. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dijadikan objek penelitiannya. Saya dipaksa dengan ancaman 'bukan mbak nya adek lagi' kalau tidak mau membantunya menyelesaikan tugas kuliahnya. Tugasnya kali ini membuat saya bertafakur, mempertanyakan kembali tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Namun yang sangat menyesakkan adalah fakta bahwa ternyata saya sering sekali berkoar-koar tentang pemahaman yang baik, tapi terkadang saya lupa diri, saya merasa menjadi orang yang munafik. Ah, semoga saja pemikiran itu tidak benar adanya. Here we go,,,

Bilangan Menyesakkan

25.. 26.. 27.. 28.. 29.. Bilangan-bilangan itu semakin lama semakin membuatku sesak. Berdamai macam apa lagi yang mesti kulakukan. Ke sudut mana lagi jawaban itu harus kucari.. Tuhan, jangan biarkan aku menyerah..

Tentang ibadah kita

Barangkali, dilahirkan dari ayah ibu yang taat beragama, berada di antara keluarga yang juga agamis, serta memiliki sahabat dekat yang selalu setia mengingatkan ibadah, menjadi berkah tersendiri bagi saya. Di sini, saya akhirnya tahu bahwa tidak sedikit dari orang-orang di sekitar saya yang lahir dan besar di lingkungan yang kurang akan nilai-nilai keagamaan. Alih-alih beribadah dengan rajin, beribadah dengan benar pun mereka acapkali keliru. Ibadah hanya dianggap sebelah mata. Satu dua kali tak apa lah meninggalkan shalat. Quran dibaca seminggu sekali, bahkan mungkin sebulan sekali atau lebih.  Lagu-lagu sepertinya lebih enak didengar dan dilafalkan ketimbang shalawatan. Kalau melihat mereka, rasanya saya bersyukur sekali paling tidak saya tidak sesederhana mereka dalam berfikir tentang konsep ibadah. Tapi, kalau melihat di luar sana, ada jauh lebih banyak lagi orang yang ibadahnya lebih rajin, lebih baik kualitas ibadahnya. Tidak pernah menunda waktu shalatnya, mengaji dengan t...

Just Give Me a Reason (Repost)

Jawaban lain atas pertanyaanku.. Bukankah sudah jelas dalam Kitab Suci untuk apa kita diciptakan. sepertinya kita sendiri lah yang acapkali meniadakan keberadaan T uhan, walau di bawah sadar kita, kita selalu merindukannya. Astaghfirullahal'adziim... Kita semua bisa dibilang sekolah, siapa sih yang tidak sekolah? Minimal SD, SMP. Lantas pertanyaannya kenapa kita sekolah? Disuruh orang tua? Pengin? Biar dapat pekerjaan bagus? Just give me a reason. Kita semua makan, minum, siapa sih yang tidak makan, minum? Pasti melakukannya. Lantas pertanyaannya kenapa kita makan, minum? Terpaksa? Dipaksa? Butuh? Harus? Kalau nggak semaput bisa wassalam? Just give me a reason. Kita semua main internetan, facebook- an, twitteran, siapa sih yang tidak--apalagi kalau bisa baca catatan ini, siapa yg tidak? Lantas pertanyaannya kenapa kita main internetan, fb-an?Ada alasannya? Ada penyebabnya? just give me a reason.

Jatuh Hati (Repost)

Demi dzat yang memiliki setiap kata yang bisa maupun yang tidak tertuliskan, ada saja cara Allah memberikan jawaban atas setiap kegelisahan hati kita... Ketika kita marah dengan Tuhan, benci sekali atas takdir Tuhan, bilang Tuhan tidak adil, apakah kita seketika berhenti bernafas? Diambil oleh Tuhan oksigen di sekitar kita? Apakah kita berhenti minum? Diambil seketika oleh Tuhan H2O itu di sekitar kita? Tidak, kan? Padahal mudah saja. Itulah kasih sayang Tuhan.

Entahlah...

Akhir-akhir ini sepertinya ada yang salah dengan diriku. Aku merasa paranoid dengan diriku sendiri. Ya, aku takut. Ketakutan yang teramat sangat. Aku takut dengan diriku sendiri yang meragukan tentang kehidupan. Sibuk bertanya tentang mengapa ada kehidupan. Mengapa Tuhan menciptakan kehidupan jika pada akhirnya ada kematian. Mengapa Tuhan seperti ini, seperti itu. Dan puluhan mengapa-mengapa lainnya. Ya Allah, sungguh aku sama sekali tidak meragukan-Mu. Tapi kenapa pertanyaan pertanyaan itu sangat menyesakkan pikiranku, hingga rasanya aku tidak bisa berfikir senormal yang lainnya. Rasanya semacam aku sudah gila. Kumohon dengan sangat, tolong aku...

Tilawah Senja (Repost)

Barangkali Tuhan menakdirkan kau dan aku sebagai sepasang makna berkait. Maka jauh sebelum kata-kata mengajariku merawat harapan-harapan, kau telah lebih dulu kekal dalam puisiku. : : Anis Manshur   : :

Kagum-mengagumi-dikagumi

Kamu pernah mengagumi seseorang? Tergila dengan segala yang ia lakukan -bahkan hal terbodoh sekalipun? Kepo dgn segala yang ia perbuat. Berkali-kali melongok jejaring sosialnya (aku bangeeeet). Aku pernah, tidak sekali dua kali. Dan hingga saat ini masih saja. Percaya atau tidak, menurutku mengangumi itu menguras pikiran dan waktu. Bahkan tidak jarang malah menimbulkan iri hati. Ah, jujur saja, susah sekali untuk bisa mengubah kekaguman itu menjadi energi positif. Sepertinya aku memang masih harus banyak belajar untuk  bisa menjadi seseorang yang layak dikagumi :) Semoga.

Ketakutanku.

Kamu tahu apa yg paling aku takutkan ketika aku sudah memilikimu? Tidak, aku tidak takut kehilanganmu. Karena aku tahu suatu saat aku pasti kehilanganmu. Aku justru lebih takut, jika saat bersamamu aku selalu membandingkanmu dengan yang lain. Itu sungguh menyakitkan. Barangkali saja, Tuhan belum juga mempertemukan kita karena alasan itu. Aku masih terlalu sering membandingkanmu dengannya, dengan ia yang selama ini kukagumi tapi tak mungkin kumiliki. Aku masih meragukan bahwa kamu adalah yang terbaik bagiku... Maafkan aku...

Menulis; harus atau ingin?

Satu ketika, saya pernah membaca postingan salah satu 'suhu' saya di fanspage ny. Saya lupa bagaimana kalimat utuhnya, yg saya ingat hanya bagian ini; T ulislah apa yang HARUS orang lain baca, bukan yang INGIN orang lain baca. Satu, dua, tiga, bermenit-menit kemudian, otak saya berfikir keras. Jeda antara harus dan ingin itu tipis sekali, bukan? Lalu bagaimana membedakan keduanya? Bukankah kita seringkali terjebak dalam situasi memenuhi keharusan dan keinginan? Lama baru saya mengerti, batasan nya sebenarnya sangat jelas. Hati setiap orang lah yang akan menentukan batasannya. Sekalipun otak berusaha keras memanipulasi bahwa sesuatu itu adalah sebuah keharusan, maka hati kita tidak akan pernah bisa termanipulasi. Jadi, selamat menulis apa yang HARUS orang lain baca :D

Happy birthday 'big bro'

Barangkali ragamu memang sudah lama tercabik ratusan cacing di bawah gundukan tanah merah itu. Tapi kami yakin sukmamu masih terjaga, bersemayam di dunia paralel lainnya. Sementara, kenangan akanmu, masih tersimpan rapi di sini, di hati kami. Ini kali ketiga kami tak lagi mampu mengucapkannya langsung, tidak lewat telepon, pun sms. Atau sekedar ucapan basa-basi di wall facebook. Namun ucapan dari kami masih sama, seperti kali sebelumnya, seperti di setiap tengadah tangan kami seusai sujud panjang menemuiNya. Smoga Tuhan dan Malaikat-Malaikat di surga berkenan menempatkanmu di tempat yang terbaik untuk menunggu kami. Menjagamu hingga akhirnya kami datang. Tak hanya sekedar  berkunjung, tapi juga menemani. Hidup bersama kembali. Peluk rindu kami untukmu. …12 Maret 2013…

Sherlock Holmes Quotes

'My name is Sherlock Holmes.  It is my business to know what other people don't know.' Sherlock Holmes Quote -The Adventure of the Blue Carbuncle --- 'I am the last and highest court of appeal in detection.' Sherlock Holmes Quote -The Sign of Four Chapter 1: "The Science of Deduction" ---

Ilusi ci(n)ta

Astaghfirullah, sepertinya akhir-akhir ini sudah banyak istighfar yang saya ucapkan. Banyak, terlalu banyak malah. Sungguh saya malu sekali, malu sekali pada Allah. Saya acapkali membanding-bandingkan apa yang sudah didapatkan orang lain dengan apa yang sudah saya dapatkan. Salah. Tidak sepert itu, mungkin seperti ini, saya membandingkan apa yang sudah Allah beri pada mereka dengan apa yang sudah Allah beri pada saya. Astaghfirullah, ampuni hamba Rabb... Satu dua kali, banyak kali-saking tidak terhitung banyaknya, saya lupa untuk bersyukur. Saya dibutakan ilusi bahwa apa yang didapatkan orang lain itu lebih berharga dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan. Entah dalam cinta, ataupun cita. Astaghfirullah, ampuni hamba Rabb... Saya punya Al Quran, saya membaca nya. Membacanya setiap hari, tapi tanpa hati. Tanpa memahaminya, lupa untuk menghadirkan hati, menghadirkan jiwa yang bersih ketika membacanya. Maka, jadilah saya, dibutakan ilusi, lupa bagaimana cara bersyukur. Astag...

Terserah

Terserah kali ini Sungguh aku tak ‘kan perduli Ku tak sanggup lagi Jalani cinta denganmu... Biarkan ku sendiri Tanpa bayang-bayangmu lagi Ku tak sanggup lagi Mulai kini s’mua terserah… Di mana arti sebuah kesetiaan Bila hanya dalam kata-kata Ku coba untuk bertahan Namun aku tak sanggup... -Glen Fredly, Terserah- Huft, sudah beberapa hari ini mood saya sedang tidak bagus. Entahlah, rasanya ingin 'meledak'. Ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Saya bahkan rasanya sudah muak untuk menangis, saya justru lebih senang membujuk hati saya untuk tetap baik-baik saja...